Bab 2 PERLAWANAN TERHADAP PENJAJAHAN BANGSA EROPA
Squad, pasti kamu sudah tahu 'kan kalau negara kita tercinta ini pernah dijajah oleh bangsa Belanda selama 3,5 abad? Pasti kamu bertanya-tanya, apakah bangsa kita tidak pernah melakukan perlawanan untuk bisa begitu lamanya. Eits jangan salah, ternyata masyarakat Indonesia pada saat itu sudah melakukan berbagai perlawanan yang dipelopori oleh beberapa pahlawan hebat. Apa saja ya perang yang telah terjadi demi membebaskan Indonesia dari pemerintah Belanda? Yuk, kita lihat.
Perang Padri
Tuanku Imam Bonjol
Perang Padri diawali dengan konflik
antara Kaum Padri dengan Kaum Adat terkait pemurnian agama Islam di Sumatera
Barat. Kaum Adat masih sering melakukan kebiasaan yang bertentangan dengan
Islam, seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Kaum Padri yang terdiri dari para
ulama menasihati Kaum Adat untuk menghentikan kebiasaan tersebut, Kaum Adat
menolaknya, sehingga terjadi perang yang berlangsung tahun 1803 – 1821. Perang
diakhiri dengan kekalahan Kaum Adat. Kondisi tersebut lalu dimanfaatkan Belanda
untuk bekerja sama dengan Kaum Adat guna melawan Kaum Padri. Belanda memang
bertujuan untuk menguasai wilayah Sumatera Barat. Salah satu tokoh pemimpin
Kaum Padri adalah Tuanku Imam Bonjol. Fase perang ini berlangsung tahun 1821 –
1838. Tuanku Imam Bonjol lalu mengajak Kaum Adat agar menyadari tipuan Belanda
dan akhirnya bersatu melawan Belanda. Perang diakhiri dengan kekalahan di pihak
Padri dan Adat karena militer Belanda yang cukup kuat.
Perang Pattimura
Pada 1817, Belanda juga berusaha
menguasai Maluku dengan monopoli perdagangan. Rakyat Maluku yang dipimpin
Thomas Matulessy (Pattimura) menolaknya dan melakukan perlawanan terhadap
Belanda. Pertempuran sengit terjadi di benteng Duurstede, Saparua. Belanda
mengerahkan pasukan secara besar-besaran, rakyat Maluku terdesak. Perlawanan
rakyat Maluku melemah akibat tertangkapnya Pattimura dan Martha Christina
Tiahahu.
Perang Diponegoro
Perang Diponegoro adalah perang
terbesar yang dialami Belanda. Perlawanan ini dipimpin Pangeran Diponegoro yang
didukung pihak istana, kaum ulama, dan rakyat Yogyakarta. Perang ini terjadi
karena Belanda memasang patok-patok jalan yang melalui makam leluhur Pangeran
Diponegoro. Perang ini terjadi tahun 1825 – 1830. Pada tahun 1827, Belanda memakai
siasat perang bernama Benteng Stelsel, yaitu setiap
daerah yang dikuasai didirikan benteng untuk mengawasi daerah sekitarnya.
Antara satu benteng dan benteng lainnya dihubungkan pasukan gerak cepat,
sehingga ruang gerak pasukan Diponegoro dipersempit. Benteng
Stelsel belum mampu mematahkan serangan pasukan Diponegoro.
Belanda akhirnya menggunakan tipu muslihat dengan cara mengajak berunding
Pangeran Diponegoro, padahal sebenarnya itu berupa penangkapan. Setelah
penangkapan, gerak pasukan Diponegoro mulai melemah. Belanda dapat memenangkan
perang tersebut, namun dengan kerugian yang besar karena perang tersebut
menguras biaya dan tenaga yang banyak.
Perang Jagaraga Bali
Perang ini terjadi akibat protes
Belanda terhadap Hak Tawan Karang, yaitu aturan yang memberik hak kepada
kerajaan-kerajaan Bali untuk merampas kapal asing beserta muatannya yang
terdampar di Bali. Protes ini tidak membuat Bali menghapuskan Hak Tawan Karang,
sehingga perang puputan (habis-habisan) antara kerajaan-kerajaan Bali yang dipimpin
I Gusti Ketut Jelantik dengan Belanda terjadi. Belanda berhasil menguasai Bali
karena kekuatan militer yang lebih unggul.
Perang Banjar
Antasari
Perang ini dilatarbelakangi oleh
Belanda yang ingin menguasai kekayaan alam Banjar, serta keikut-campuran Belanda
dalam urusan kesultanan. Akibatnya, rakyat yang dipimpin Pangeran Hidayatullah
dan Pangeran Antasari melakukan perlawanan terhadap Belanda sekitar tahun 1859.
Serangkaian pertempuran terus terjadi hingga Belanda menambahkan kekuatan
militernya. Pasukan Pangeran Hidayatullah kalah, karena pasukan Belanda lebih
unggul dari segi jumlah pasukan, keterampilan perang pasukannya, dan peralatan
perangnya. Perlawanan rakyat Banjar mulai melemah ketika Pangeran Hidayatullah
tertangkap dan dibuang ke Pulau Jawa, sementara itu Pangeran Antasari masih
melakukan perlawanan secara gerilya hingga ia wafat.
Perang Aceh
Cut Nyak Dien
Perang Aceh dilatarbelakangi
Traktat Sumatra (1871) yang menyebutkan bahwa Belanda bebas meluaskan wilayah
di Sumatera termasuk Aceh. Hal ini ditentang Teuku Cik Ditiro, Cut Mutia, Teuku
Umar, Cut Nyak Dien, dan Panglima Polim. Belanda mendapatkan perlawanan sengit
dari rakyat Aceh. Rakyat Aceh berperang dengan jihad, sehingga semangatnya untuk
melawan Belanda sangat kuat.
Untuk menghadapinya, Belanda
mengutus Snouck Hurgronje untuk meneliti budaya dan karakter rakyat Aceh. Ia
menyarankan agar pemerintah Belanda menggempur pertahanan Aceh bertubi-tubi
agar mental rakyat semakin terkikis, dan memecahbelah rakyat Aceh menjadi
beberapa kelompok.
Perlawanan Rakyat Batak
Sisingamangaraja XII
Perlawanan rakyat Batak dipimpin
Sisingamangaraja XII. Latar belakang perlawanan ini adalah bangsa Belanda
berusaha menguasai seluruh tanah Batak dan disertai dengan penyebaran agama
Kristen. Sisingamangaraja XII masih melawan Belanda sampai akhir abad ke-19.
Namun, gerak pasukan Sisingamangaraja XII semakin menyempit. Pada akhirnya,
Sisingamangaraja XII wafat ditembak serdadu Marsose, dan Belanda menguasai
tanah Batak.
Tugas :
1.
Baca materi LKS Sejarah Indonesia XI Semester 1
hal 26-32 dan hal 33-38
2.
Jawablah soal Uji Kompetensi 1 hal 32-33 dan Uji
Kompetensi 2 hal 38-39
3.
Jawaban dikirim ke group wa Sejarah Indo – IPS
3-4
Comments
Post a Comment