RESPON DUNIA INTERNASIONAL TERHADAAP KEMERDEKAAN INDONESIA
B. RESPON DUNIA INTERNASIONAL TERHADAAP KEMERDEKAAN INDONESIA
Bendera Indonesia (sumber:www.wikipedia.com)
Belanda berkali-kali menolak kemerdekaan RI. Mereka bahkan
melakukan aksi polisionil untuk merebut kembali wilayah Indonesia pada Agresi
Militer I (1947) dan Agresi Militer II (1948). Berkali-kali clash, berkali-kali pula
berlangsung perundingan, mulai Perjanjian Linggarjati (1946), Perjanjian
Renville (1948), Perjanjian Roem-Royen (1949), hingga Konferensi Meja Bundar
(1949). Pihak Belanda berkali-kali melakukan aksi polisionil dengan alasan
ingin menertibkan kondisi keamanan Hindia Belanda dari para pemberontak. Maka
tak heran Belanda kembali datang untuk alih-alih “menertibkan”.
Belanda baru mengakui kedaulatan RI berkat resolusi Konferensi
Menja Bundar pada 1949. Meski begitu, hasil kesepakatan KMB pun membagi wilayah
Indonesia ke bentuk federasi, Republik Indonesia Serikat. RIS lantas dinyatakan
berakhir pada tahun 1950. Memang tak mudah bagi para pejuang Indonesia terutama para
diplomat di masa-masa awal kemerdekaan meyakinkan negara-negara lain untuk
mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat.
1.
Pengakuan
Mesir
Bendera
Mesir(sumber:www.wikipedia.com)
Haji Agus Salim, AR Baswedan, Nazir Pamoentjak, dan H.M. Rasyidi
mengemban misi kunjungan balasan ke Mesir, setelah sebelumnya Konsul Jenderal
Mesir di Bombay, Abdul Mun`im bertandang ke Yogyakarta pada 13-16 Maret 1947. Kunjungan Mun`im tersebut,
menurut AR Baswedan pada buku Abdul
Rahman Baswedan: Karya dan Pengabdiannya, mewakili Mesir dan mengemban
pesan Liga Arab berisi dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Mun`im
menyampaikan pesan tersebut kepada Presiden Soekarno pada 15 Maret 1947.
Setelah kunjungan Mun`im tersebut, keempat delegasi Indonesia
lantas bertolak menuju Mesir. Kedatangan mereka bahkan mendapat atensi besar
surat kabar Mesir.
Sehari setelah kedatangan mereka, menurut AR Baswedan, koran
terbesar di Kairo “Al Ahrom” memuat foto delegasi RI. Kehadiran keempatnya
mendapat sedikit ganjalan saat jadwal seharusnya melakukan penandatanganan
kesepakatan persahabatan. Ternyata, pihak Belanda melalui Duta Besar Belanda di Mesir sempat
terlebih dahulu menemui PM Norakshi untuk menyampaikan keberatan mengenai sikap
pemerintah Mesir terhadap Indonesia. Duta Besar Belanda tersebut
mengingatkan mengenai kerjasama ekonomi Belanda dan Mesir, juga mengancam akan
menarik dukungannya terhadap Mesir bila tetap mendukung Indonesia. PM Norakshi tak gentar dengan ancaman tersebut. Ia tetap menerima
keempat delegasi RI dan tetap melangsungkan penandatanganan perjanjian
persahabatan sekaligus pengakuan kemerdekaan RI.
2. Respon India
Bendera India (sumber:www.wikipedia.com)
Hubungan Indonesia dan India dari sisi kebudayaan memang telah
terjalin lama. Namun, secara politik kontak pertama tokoh pergerakan kedua
negara terjalin pada Kongres Internasional menentang Kolonialisme di Brussel
1926 dan 1927. Kala itu, Hatta berjumpa Nehru. Hubungan tersebut terus berlanjut
hingga masa revolusi. India secara masif muncul sebagai sahabat terdepan
Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Kedua negara, sama-sama
berjuang menghadapi imperialisme Belanda dan Inggris. Dukungan kedua negara
bisa terjalin baik karena keduanya memiliki pandangan politik serupa.
Setelah merdeka, Indonesia mengirim bantuan ke India berupa beras
sebanyak 500.000 ton. Bantuan tersebut diberikan lantaran India mengalami
krisis. India membalas bantuan tersebut dengan mengadakan Konferensi New Delhi
pada 20-25 Januari 1949. Agus Salim kembali hadir sebagai delegasi Indonesia. Konferensi
tersebut dihadiri negara-negara sahabat, seperti Burma, Iran, Australia, Arab
Saudi, Selandia Baru, Tiongkok, Yaman, Sri Lanka, dan lainnya. Hasil pertemuan tersebut membuahkan risalah untuk diajukan kepada
PBB, berisi 3 pokok rekomendasi, meliputi; 1) melakukan gencatan senjata, 2)
Belanda membebaskan semua tawanan politik RI dan mengembalikan pemerintah RI ke
Yogyakarta, dan 3) mengadakan perundingan di bawah UNCI.
3.
Peran
Australia
Bendera Australia
(sumber:www.wikipedia.com)
Sekiranya 4.000 buruh kapal melakukan aksi mogok. Mereka menolak
bongkar muat kapal-kapal pengakut persenjataan untuk Belanda. Dukungan kuat publik Australia,
terutama Australian Waterside Workers Union, para pelaut Indonesia, China,
India tersebut membuat kapal-kapal Belanda tak bisa melanjutkan pelayaran. Aksi
tersebut tersohor dengan sebutan “The Black Armada”.
Aksi para buruh tersebut terus berlanjut hingga membuat elit di
Australia terpengaruh terhadap perjuangan Indonesia untuk mempertahankan
perjuangan. Hasil dari dukungan tersebut berbuah hasil manis. Pihak Australia
lantas memfasilitasi pemulangan sekitar 1.400 tawanan perang Belanda asal
Indonesia. Pihak Australia juga mendorong Dewan Keamanan
PBB mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan terpenting, perjuangan Partai Buruh
Australia secara berkesinambungan melakukan aksi-aksi mendukung kemerdekaan
Indonesia.
4. Pengakuan PBB Terhadap Kemerdekaan Indonesia
Bendera PBB (sumber:www.wikipedia.com)
Peran terbesar PBB dalam sejarah Indonesia terutama
pasca-kemerdekaan lebih banyak mengurus penyelesaian masalah antara Belanda dan
Indonesia. Mula-mula ketika terjadi Agresi Militer I, PBB mengeluarkan
rekomendasi untuk membuat Komisi Tiga Negara (KTN). Tiap negara berseteru
memilih satu negara untuk menjadi wakil sementara satu negara menjadi pihak
netral untuk menyelesaikan pertikaian.
Indonesia memilih Australia dengan Richard Kirby, sementara
Belanda memilih Belgia dengan Paul van Zealand. Pihak ketiga atau netral
dipilih Amerika Serikat dengan perwakilan Frank Graham. KTN berhasil mengantar
kedua negara untuk berunding pada Perjanjian Renville. Setelah itu, PBB berperan pada
pembentukan badan perdamaian bernama United
Nations Commission for Indonesia (UNCI). Tugas UNCI menggantikan KTN, untuk
membantu memperlancar segala bentuk perundingan antara Indonesia dengan
Belanda.
United Nations Commisions for Indonesia (UNCI) adalah suatu
badan perdamaian yang dibentuk pada tanggal 28 Januari 1949 untuk menggantikan
Komisi Tiga Negara yang dianggap gagal mendamaikan Indonesia – Belanda (Belanda
kembali melakukan Agresi Militer setelah Perjanjian Renville).
Peran
·
mengadakan Perundingan Roem Royen (7 Mei 1949) Pada 23 Agustus
s.d. 2 November 1949, UNCI Mengawasi perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB).
·
mengadakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda. Pada
Maret 1949 mengundang delegasi Indonesia dan Belanda untuk memulai pembicaraan
·
mengadakan sidang pendahuluan yang diketuai oleh Merle Cohran
(wakil dari Amerika Serikat) pada tanggal 17 April 1949.
·
berhasil membawa Indonesia-Belanda ke dalam perundingan
Roem-Royen.
·
Mengawasi perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tanggal
23 Agustus-2 November 1949.
Hasil
UNCI
dipimpin oleh Merle Cochran (Amerika Serikat) dibantu Critchley (Australia) dan
Harremans (Belgia). Hasil kerja UNCI di antaranya mengadakan Perjanjian
Roem-Royen antara Indonesia Belanda. Perjanjian Roem-Royen diadakan tanggal 14
April 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Sebagai wakil dari PBB adalah Merle
Cochran (Amerika Serikat), delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mr. Moh.
Roem, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh van Royen. Dalam perundingan
Roem-Royen, masing-masing pihak mengajukan statement.
Di PBB, Indonesia mengutus LN Palar menjadi Wakil Tetap RI. Palar
berperan besar memperjuangkan agar Indonesia mendapat pengakuan internasional.
Ia pun berhasil mengantar Indonesia menjadi anggota PBB.





Comments
Post a Comment