ABAD PENCERAHAN
ABAD PENCERAHAN
Abad Pencerahan atau Zaman Pencerahan (bahasa Inggris: Age of Enlightenment ; bahasa Jerman: Aufklärung)
adalah suatu masa di sekitar abad ke-18 di Eropa yang
diketahui memiliki semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional,
memisahkan pengaruh-pengaruh keagamaan dari pemerintahan. Bertolak dari
pemikiran ini, masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi dan
pemikiran ilmiah. Ideologi Sekularisme menjadi dasar tonggak
peradaban maju Eropa.
Semangat ini kemudian ditularkan pula kepada koloni-koloni Bangsa Eropa di Asia,
termasuk Indonesia, walaupun Indonesia bukan negara
yang berpaham Sekularisme. Contoh
nyatanya adalah pendirian Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Museum Gajah), suatu perhimpunan untuk menelaah
ditinjau dari riset-riset ilmiah.
Zaman Pencerahan terjadi sekitar tahun 1687 - 1789M, adalah
masa-masa yang produktif bagi sejarah budaya barat. Seperti ditemukannya bubuk
mesiu, mesin cetak, dan kompas yang menjadi perubahan besar, serta mempengaruhi
dunia hingga saat ini,
Terdapat 4 ciri Transformasi di Zaman Pencerahan:
1.
Kapitalisme
awal/Merkantilisme
2.
Kemandirian/Individualisme
3.
Berperannya
aspek-aspek rasional
4.
Pesatnya
kemajuan teknologi
Menunggu (Lagi) Zaman Pencerahan di Indonesia?
Indonesia berdiri sebagai nasion karena ide-ide yang tumbuh di
zaman aufklärung yang menghargai kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat.
Tapi kini semua berada dalam ancaman
Sebagai negeri majemuk, yang terdiri dari berbagai
suku bangsa, bahasa dan agama, keberagaman menjadi keniscayaan di Indonesia.
Namun demikian masih banyak persolan yang melilit bangsa ini, terutama dalam
hal kebebasan beragama. Beberapa pekan lalu lebih dari seribu orang
berdemonstrasi di depan Istana Merdeka, menuntut kebebasan beragama sekaligus
menanggapi serangkaian peristiwa pelanggaran hak kebebasan beragama selama
tahun 2010, termasuk pembubaran jemaat Kristen yang sedang menjalankan ibadah
dan serangan terhadap jamaah Ahmadiyah. Pelanggaran-pelanggaran itu dilakukan
oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan pembela agama Islam. Pertanyaannya:
kenapa reaksi masyarakat, termasuk lembaga-lembaga kekuasaan lemah jika
dibanding dengan kelompok yang begitu kecil dan tidak berpengaruh tersebut?.
Untuk menjawab masalah itu, kita harus melihat
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28E ayat pertama yang berbunyi, “Setiap orang
bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan
pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal
di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.” Namun pelaksanaan
masih jauh panggang dari api. Kalu kita tengok ke belakang, kecenderungan
itu menguat berkali lipat sesudah tahun 1965 dengan kemenangan salah satu kubu
ideologis di Indonesia, kubu prokapitalisme anti-sosialis, pro-otoriterisme dan
anti-kemerdekaan. Kekuasaan kediktatoran Orde Baru yang berkuasa selama 32
tahun itu bersandar pada kekuatan senjata untuk mempertahankannya.
Selama periode Orde Baru kebijakan-kebijakan
untuk mengkontrol pikiran orang semakin banyak. Sekolah tidak lagi dipakai
untuk mendidik anak supaya kritis terhadap situasi di sekelilingnya. Cara
berpikir kritis yang menjadi andalan semua pendiri bangsa - baik aliran
Soekarno, maupun aliran Sjahrir maupun Hatta - dibuang ke tong sampah dan
diganti dengan cara berpikir menghafal, mengiyakan dan menerima. Ini menegasi
sepenuhnya hasil-hasil zaman pencerahan (Enlightenment atau Aufklarung)
yang merubah wajah umat manusa di atas muka bumi.
Aufklärung memang sesuatu yang berkembang di Eropa pada abad 18.
Mungkin ada sebagian pendapat yang menyatakan ide aufklärung tidak
relevan di Indonesia yang "mempunyai tradisi dan budaya sendiri".
Tapi pendapat itu salah. Karena salah satu sebab Indonesia bisa berdiri sebagai
sebuah nasion baru juga dipengaruhi ide-ide aufklarung. Seluruh pendiri bangsa
menganut ide-ide ini dengan pemahamannya sendiri-sendiri. Sebenarnya
gerakan-gerakan anti-kolonial di seluruh dunia pun merupakan salah satu perjuangan
meneruskan nilai-nilai aufklärung.
Salah satu definisi aufklärung seperti
didedahkan oleh filsuf Immanuel Kant, ".... adalah kemunculan manusia dari
ketidakdewasaan dirinya sendiri. Kant berpendapat bahwa ketidakmatangan terjadi
bukan karena kurangnya pemahaman, namun akibat kurangnya keberanian untuk
menggunakan salah satu gagasan, kecerdasan, dan kebijaksanaan tanpa bimbingan
orang lain. Dengan kata lain seorang manusia takut untuk berpikir bagi dirinya
sendiri. Oleh karena itu Kant berseru bahwa moto pencerahan adalah "Sapere
Aude!". Beranilah menggunakan pengertian dan pengetahuan kamu sendiri!
Itulah essensi dari pencerahan.
Pada zaman kolonial rakyat Indonesia yang suka disebut "pribumi" oleh kekuasaan kolonial berpikir kalau dirinya harus terus-menerus mendapatkan bimbingan dari penguasa. Hal itulah yang ditolak oleh kaum intelektual pemberontak awal abad 20. Seiring tersebarnya kesadaran tersebut, jutaan rakyat jelata pun menolak berada di bawah ketiak kekuasaan meneer-meneer penjajah. Dalam proses itu, kaum intelektual, baik mereka yang lulusan sekolah-sekolah formal ataupun matang di dalam organisasi pergerakan – menyerap dan mempelajari ide-ide pencerahan secara umum
Kerang Pernah Menjadi Mata Uang
Pembacaan terhadap karya-karya produk zaman aufklärung di
Eropa menumbuhkan pengertian kritis terhadap dunia. Akumulasi ilmu pengetahuan
menjadi pisau analisa sekaligus senjata utama untuk memperjuangkan kemerdekaan
negeri. Itu juga yang dilakukan oleh Sukarno di dalam memimpin gerakan
pembebasan nasional di Indonesia. Sebagai pemikir paling berpengaruh, dia
sering memperkenalkan ide-ide Rousseau dan Thomas Jefferson, dua pemikir besar
zaman pencerahan, kepada rakyat Indonesia.
Tetapi dengan pembasmian cara berpikir kritis
sesudah tahun 1965, hilanglah juga sebuah cara berpikir memandang dunia (weltanschaung).
Padahal itulah yang sebenarnya jadi senjata ampuh dalam perjuangan mendirikan
Indonesia. Tanpa kebebasan untuk berpikir tentang semesta alamnya sendiri,
rakyat digiring kepada bentuk gagasan produk pemikiran represif ciri khas rezim
otoritarian: Tunduklah pada yang lebih tahu, yakni penguasa dan mereka
yang mengaku sebagai ahli di bidang moralitas.
Selama cara berpikir kritis yang dihidupkan
oleh Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Sukarno, Sjahrir, Hatta, Tan Malaka dan semua
aktivis pembebasan nasional sebelum dan sesudah 1945 tidak dibangkitkan
kembali, maka para manusia sok “pembimbing” akan selalu menguasai negeri ini.
Membuat zaman kembali terkungkung dalam kegelapannya dan jauh dari ide-ide pencerahan
yang dibawa oleh para aktivis itu. Jadi, beranilah berpikir dengan menggunakan
pemikiranmu sendiri! Dan beranilah mengungkapkannya untuk kebaikan kita semua.
Berjuanglah terus untuk merebut kembali zaman pencerahan yang telah Sukarno cs.
bawa ke negeri ini.
Comments
Post a Comment