PEDAGANG,PENGUASA,DAN PUJANGGA PADA MASA HINDU-BUDHA
PEDAGANG,PENGUASA,DAN
PUJANGGA PADA MASA HINDU - BUDHA
Masa
Hindu-Buddha berlangsung selama kurang lebih 12 abad. Pembabakan masa
Hindu-Buddha terbagi menjadi tiga, yaitu periode pertumbuhan, perkembangan, dan
keruntuhan. Pada abad ke-16 agama Islam mulai mendominasi Nusantara. Namun,
tidak berarti pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha hilang tergantikan kebudayaan
Islam. Agama Islam mengakomodasi peninggalan Hindu-Buddha, tentunya dengan
melakukan modifikasi agar tetap berselang beberapa abad, wujud peradaban
Hindu-Buddha masih dapat kita saksikan hingga sekarang, misalnya dalam
perwujudan sastra dan arsitektur.
I.
Perkembangan Hindu-Budha
A.
Kelahiran Agama Hindu
Pertumbuhan
dan perkembangan kebudayaan Hindu di India berkaitan dengan sistem kepercayaan
bangsa Arya yang masuk ke India pada 1500 S.M. Kebudayaan Arya berkembang di
Lembah Sungai Indus India. Bangsa Arya mengembangkan sistem kepercayaan dan
sistem kemasyarakatan yang sesuai dengan tradisi yang dimilikinya yaitu
penyembahan terhadap banyak dewa (Politheisme) yang dipimpin oleh
golongan pendeta atau Brahmana. Golongan ini juga menulis ajaran mereka dalam
kitab-kitab suci yang menjadi standar pelaksanaan upacara-upacara keagamaan.
Kitab suci agama Hindu disebut Weda (Veda) yang berarti pengetahuan tentang
agama. Weda terdiri dari 4 buah kitab, yaitu:
a.
Rigweda
Rigweda
adalah kitab yang berisi tentang ajaran-ajaran Hindu. Rigweda merupakan kitab
yang tertua dan kemungkinan muncul pada waktu bangsa Arya masih berada di
daerah Punjab.
b.
Samaweda
Samaweda
adalah kitab yang berisi nyanyian-nyanyian pujaan yang wajib dilakukan ketika
upacara agama.
c.
Yajurweda
Yajurweda
adalah kitab yang berisi dosa-doa yang dibacakan ketika diselenggarakan upacara
agama. Munculnya kitab ini diperkirakan ketika bangsa Arya mengusai daerah Gangga
Tengah.
d.
Atharwaweda
Atharwaweda
adalah kitab yang berisi doa-doa untuk menyembuhkan penyakit, doa untuk
memerangi raksasa. Doa-doa atau mantera pada kitab ini muncul setelah bangsa
Arya berhasil menguasai daerah Gangga Hilir.
Ada
tiga dewa utama dalam agama Hindu yang disebut Trimurti, yaitu : Dewa Brahma
(dewa pencipta), Dewa Wisnu (dewa pelindung), dan Dewa Siwa (dewa perusak).
Sistem kemasyarakatan yang dikembangkan oleh bangsa Arya adalah
sistem kasta. Sistem ini membedakan masyarakat berdasarkan fungsinya.
Golongan Brahmana (pendeta) menduduki golongan pertama. Ksatria (bangsawan,
prajurit) menduduki golongan kedua. Waisya (pedagang dan petani) menduduki
golongan ketiga, sedangkan Sudra (rakyat biasa) menduduki golongan keempat.
Penggolongan seperti inilah yang disebut caturwarna.
B.
Lahirnya Agama Budha
Agama
Buddha lahir sekitar abad ke-5 S.M. Agama ini lahir sebagai
reaksi terhadap agama Hindu terutama karena keberadaan kasta. Pembawa
agama Buddha adalah Sidharta Gautama (563-486 S.M), seorang putra dari Raja
Suddhodana dari Kerajaan Kosala di Kapilawastu. Untuk mencari pencerahan hidup,
ia meninggalkan Istana dan menuju ke tengah hutan di Bodh Gaya. Ia bertapa di
bawah pohon (semacam pohon beringin) dan akhirnya mendapatkan bodhi, yaitu
semacam penerangan atau kesadaran yang sempurna. Pohon itu kemudian
dikenal dengan pohon bodhi. Sejak saat itu, Sidharta Gautama dikenal sebagai
Sang Buddha, artinya yang disinari. Peristiwa ini terjadi pada tahun 531 SM.
Usia Sidharta waktu itu kurang lebih 35 tahun. Wejangan yang pertama
disampaikan di Taman Rusa di Desa Sarnath.
Dalam
ajaran Buddha manusia akan lahir berkali-kali (reinkarnasi). Hidup adalah
sengsara, menderita, dan tidak menyenangkan. Menurut ajaran Buddha, hidup
manusia adalah menderita, disebabkan karena adanya tresna atau cinta, yaitu
cinta (hasrat/nafsu) akan kehidupan. Penderitaan dapat dihentikan, caranya
adalah dengan menindas tresna melalui delapan jalan (astawida), yakni
pemandangan (ajaran) yang benar, niat atau sikap yang benar, perkataan yang
benar, tingkah laku yang benar, penghidupan (mata pencaharian) yang benar,
usaha yang benar, perhatian yang benar, dan semadi yang benar.
C.
Masuknya Pengaruh Hindu-Budha
Proses
masuknya Hindu-Buddha atau sering disebut Hindunisasi di Kepulauan Indonesia
ini masih ada berbagai pendapat. Beberapa pendapat (teori) tersebut dijelaskan
pada uraian berikut.
Pertama
teori ksatria
Dalam
kaitan ini R.C. Majundar berpendapat, bahwa munculnya kerajaan atau pengaruh
Hindu di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh peranan kaum ksatria atau para
prajurit India. Para prajurit diduga melarikan diri dari India dan mendirikan
kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara. Namun, teori
Ksatria yang dikemukakan oleh R.C. Majundar ini kurang disertai dengan bukti-bukti
yang mendukung. Selama ini belum ada ahli arkeolog yang dapat menemukan
bukti-bukti yang menunjukan adanya ekspansi dari prajurit-prajurit India ke
Kepulauan Indonesia. Kekuatan teori ini terletak pada semangat untuk
petualangan para kaum ksatria.
Kedua,
teori Waisya
Teori ini terkait dengan pendapat N.J. Krom
yang mengatakan bahwa kelompok yang berperan dalam dalam penyebaran
Hindu-Buddha di Asia Tenggara, termasuk Indonesia adalah kaum pedagang. Pada
mulanya para pedagang India berlayar untuk berdagang. Pada saat itu jalur
perdagangan melalui lautan yang tergantung dengan adanya musim angin yang
menyebabkan mereka tergantung pada kondisi alam. Bila musim angin tidak
memungkinkan maka mereka akan menetap lebih lama untuk menunggu musim baik. Para
pedagang India pun melakukan perkawinan dengan penduduk pribumi dan melalui
perkawinan tersebut mereka mengembangkan kebudayaan India. Menurut G. Coedes,
yang memotivasi para pedagang India untuk datang ke Asia Tenggara adalah
keinginan untuk memperoleh barang tambang terutama emas dan hasil hutan.
Ketiga,
teori Brahmana
Teori sesuai dengan pendapat J.C.
van Leur bahwa Hinduninasi di Indonesia disebabkan oleh peranan kaum Brahmana.
Pendapat van Leur didasarkan atas temuan-temuan prasati yang menggunakan bahasa
Sanskerta dan huruf pallawa. Bahasa dan huruf tersebut hanya dikuasai oleh kaum
Brahmana. Selain itu adanya kepentingan dari para penguasa untuk mengundang
para Brahmana India. Mereka diundang ke Asia Tenggara untuk keperluan upacara
keagamaan. Seperti pelaksanaan upacara inisiasi yang dilakukan oleh para kepala
suku agar mereka menjadi golongan ksatria. Pandangan ini sejalan dengan
pendapat yang dikemukan oleh Paul Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia
Tenggara sangat berkepentingan dengan kebudayaan India guna mengangkat status
sosial mereka.
Keempat
teori Arus Balik.
Teori
ini lebih menekankan pada peranan bangsa Indonesia sendiri dalam proses
penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Artinya, orang-orang di
Kepulauan Indonesia terutama para tokoh-tokohnya yang pergi ke india. Di India
mereka belajar hal ihwal agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah kembali ke
Kepulauan Indonesia mereka mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama itu kepada
masyarakatnya. Pandangan ini dapat dikaitkan dengan pandangan F.D.K. Bosch yang
menyatakan bahwa proses Indianisasi di Kepulauan Indonesia dilakukan oleh
kelompok tertentu, mereka itu terdiri dari kaum terpelajar yang mempunyai
semangat untuk menyebarkan Buddha. Kedatangan mereka disambut baik oleh tokoh
masyarakat. Selanjutnya karena tertarik dengan ajaran Hindu-Buddha mereka pergi
ke India untuk memperdalam ajaran itu. Berdasarkan teori-teori yang dikemukan
di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa masyarakat di Kepulauan Indonesia
telah mencapai tingkatan tertentu sebelum munculnya kerajaan yang bersifat
Hindu-Buddha. Melalui proses akulturisasi, budaya yang dianggap sesuai dengan
karateristik masyarakat pada saat itu diterima dengan menyesuaikan pada budaya
masyarakat setempat saat itu.
Beberapa
bukti-bukti arkeologis menunjukkan perkembangan masuknya agama Hindu-Buddha di
Kepulauan Indonesia. Pengaruh Hindu ditemukan berasal pada abad ke-4 - ke-5
masehi. Prasasti yang ditemukan di Kutai dan Tarumanagara yang menyebutkan sapi
sebagai hewan persembahan menunjukkan bahwa agama Hindu berkembang di daerah
itu. Juga adanya penyebutan Dewa Trimurti yaitu, Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Comments
Post a Comment