Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara
A. Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara
1.
Penyebaran
agama Islam di Nusantara
Sumber sejarah yang
menginformasikan Islam masuk ke nusantara pada abad ke-7 Masehi adalah: Berita
China zaman Dinasti Tang Berdasarkan berita China zaman Dinasti Tang, pada 674
Masehi orang-orang Arab telah menetap di Kanton. Willem Pieter Groeneveldt
dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa (1880) berpendapat, pada waktu yang sama
kelompok Arab yang beragama Islam mendirikan perkampungan di pantai barat
Sumatera yang bernama Barus atau Fansur.
Masa Kerajaan Sriwijaya Ketika
Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaan sekitar abad ke-7 dan 8, para
pedagang Muslim telah ada yang singgah di kerajaan itu. Sehingga diduga
sejumlah penduduk di Sumatera telah memasuki Islam. Masa Kerajaan Kalingga Pada
674 Masehi, Raja Ta-Shih mengirim duta ke kerajaan Holing untuk membuktikan
keadilan, kejujuran dan ketegaran Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak
di pantai utara Jawa Tengah.
Sumber sejarah yang menyatakan
agama Islam mulai masuk ke nusantara pada abad ke-13 Masehi adalah: Catatan
perjalanan Marcopollo (Marco Pollo) yang menerangkan ia pernah singgah di
Perlak (Peureula) pada 1292 Masehi dan berjumpa dengan orang-orang yang telah
menganut agama Islam. Penemuan nisan makam Raja Kerajaan Samudera Pasai bernama
Sultan Malik Al Saleh (Malikussaleh) yang berangka tahun 1927 Masehi.
Berita Ibnu Batutah dari India
Dalam perjalanan menuju China, Ibnu Batutah singgah di Samudera Pasai pada 1345
Masehi. Ia menceritakan Raja Samudera Pasai giat menyebarkan agama Islam. Sumber
sejarah yang menyatakan agama Islam mulai masuk nusantara pada abad ke-15
Masehi adalah: Catatan Ma-Huan Ma-Huan yaitu seorang musafir China Islam yang
memberitakan pada abad ke-15 Masehi sebagian besar masyarakat Pantai Utara Jawa
Timur telah memeluk Islam. Pemakaman muslim kuno di Troloyo Pemakaman Islam
kuno di Troloyo dan Trowulan Mojokerto Jawa Timur berangka tahun 1457 Masehi. Adanya
pemakaman muslim tersebut membuktikan bangsawan Kerajaan Majapahit sudah
memeluk agama Islam pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Makam salah
seorang Wali Songo Pada malam salah satu dari Wali Songo di daerah Gresik dari
Jawa Timur pada batu nisannya tertulis nama Malik Ibrahim (Bangsa Persia) yang
wafat pada 1419 Masehi.
Catatan Suma Oriental oleh
Tome Pires Dikutip dari Encyclopedia Jakarta, musafir Portugal bernama Tome
Pires menulis catatan berjudul Suma Oriental que trata do Mar Roxo ate aos Chins
(Ikhtisar Wilayah Timur dari Laut Merah hingga Negeri China) pada 1512-1515.
Dalam catatan tersebut diberitakan penyebaran agama Islam di nusantara di Jawa,
Sumatera, Kalimantan, Jawa sampai Kepulauan Maluku.
2. Teori-teori
Masuknya Agama Islam di Nusantara
Agama Islam pertama kali lahir di Mekkah, Arab Saudi. Para
pemeluknya menyebarkan agama Islam lewat berbagai jalur. Salah satu teori
menyebutkan bahwa agama Islam di Indonesia masuk lewat jalur perdagangan.
Ketika Islam menyebarkan agama dan kebudayaannya ke Indonesia, prosesnya
cenderung berjalan dengan damai. Karena itu, raja hingga rakyat biasa
menerimanya dengan hangat.
Selain perdagangan, ada saluran lain yang menyebabkan agama
Islam dapat masuk dan berkembang di Indonesia. Saluran tersebut di antaranya
adalah saluran perkawinan, pendidikan, dan seni budaya. Ada teori-teori yang
menyebutkan tentang asal penyebar Islam di Indonesia, yaitu teori Gujarat,
teori Arab, dan teori Persia.
a. Teori
Gujarat
Ini diajukan oleh kalangan sejarawan Belanda, seperti Jan
Pijnappel, Snouck Hurgronje, dan Jean Piere. Menurut teori ini, penyebar Islam
di Indonesia berasal dari Gujarat (India) antara abad ke-7 hingga abad ke-13 M.
Kalangan yang berperan khususnya adalah para pedagang. Sejak abad ke-7, mereka
telah memeluk Islam dan di tengah kegiatannya berdagang, mereka turut
mengenalkan agama Islam, termasuk di Indonesia.
b. Teori
Arab
Diajukan oleh Jacob Cornelis van Leur dan Buya Hamka. Teori
ini menyebutkan bahwa pengaruh Islam dibawa langsung oleh pedagang Arab sekitar
abad ke-7. Teori Arab didukung dengan adanya pemukiman Islam di Barus, pesisir
barat Sumatera, di abad ke-7. Ada pula nisan pada makam wanita di Gresik, Jawa
Timur, yang ditulis dengan huruf Arab bergaya Kufi.
c. Teori Persia
Yang didukung oleh Hoesein Djajadiningrat. Teori ini
berpendapat bahwa pengaruh Islam di Indonesia dibawa masuk oleh orang-orang
Persia sekitar abad ke-13. Argumen yang diajukan oleh teori ini adalah terdapat
kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia,
seperti peringatan 10 Muharram, kesamaan ajaran sufi, kesamaan seni kaligrafi
pada nisan makan, dan terdapat perkampungan Leran yang sempat menjadi perintis
penyebaran Islam di Jawa.
Perkembangan agama Islam di Indonesia semakin pesat dengan
berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Perkembangan kerajaan Islam di Indonesia
berlangsung antara abad ke-13 hingga abad ke-18. Kerajaan tersebut dapat dibagi
berdasarkan lokasi pusat pemerintahan mereka, yaitu di Sumatera, Jawa,
Sulawesi, dan Maluku.
Kerajaan Islam yang didirikan pertama kali adalah Kerajaan
Perlak. Bukti sejarah yang menunjukkan terdapat masyarakat dan kerajaan Islam
dilaporkan oleh Marco Polo dari Venesia yang singgah di Kerajaan Perlak dalam
perjalanan pulang ke Italia tahun 1292. Di perlak, Marco Polo juga menjumpai
adanya penduduk yang telah memeluk Islam dan pedagang Islam dari India yang
menyebarkan agama Islam.
Menyusul Kerajaan Perlak, berdiri pula Kerajaan Samudra
Pasai. Bukti sejarah adanya kerajaan ini ditulis oleh Ibnu Batutah, seorang
utusan kerajaan Delhi ke Tiongkok. Dalam perjalanan dari India ke Tiongkok,
Ibnu Batutah singgah di Samudra Pasai dan mengunjungi istana Sultan Malik
Az-Zahir. Dari hasil kunjungannya ke kerajaan Islam di Samudra Pasai, diketahui
bahwa Samudra Pasai merupakan pelabuhan penting tempat kapal-kapal India dan
Tiongkok berlabuh.
Selain kedua kerajaan tersebut, kerajaan Islam lain yang
pernah berdiri di Indonesia di antaranya adalah Kerajaan Aceh Darussalam, Kerajaan
Demak, Kerajaan Banten, Kerajaan Mataram, Kerajaan Makassar, Kerajaan Ternate,
dan Kerajaan Tidore.

Comments
Post a Comment