Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, dan Kesultanan GowaTallo


5.      Kesultanan Ternate

Kesultanan Ternate atau juga dikenal dengan Kerajaan Gapi adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-19. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Pada masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah MalukuSulawesi bagian utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di Pasifik.

Kehidupan Politik 

Menurut catatan orang Portugis, Raja Maluku yang mula-mula memeluk agama Islam adalah Raja Ternate, Gapi Baguna atau Sultan Marhum yang tertarik masuk Islam karena menerima dakwah dari Datuk Maulana Husin. Sultan Marhum memerintah Ternate tahun 1465–1485. Setelah mangkat, ia digantikan oleh putranya, Zainal Abidin. Pada tahun 1495, Zainal Abidin mewakilkan pemerintahan kepada keluarganya karena ingin memperdalam pengetahuan agama Islam kepada Sunan Giri. Setelah kembali ke Ternate, Zainal Abidin dengan giat menyebarkan agama Islam ke pulau-pulau di sekitarnya, bahkan sampai ke Filipina Selatan. Zainal Abidin memerintah hingga tahun 1500.

Setelah Sultan Zainal Abidin mangkat, pemerintahan di Ternate berturut-turut dipegang oleh Sultan Sirullah, Sultan Hairun, dan Sultan Baabullah. Pada masa pemerintahan Sultan Hairun, di Maluku kedatangan bangsa Barat, seperti bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda. Bangsa Portugis yang pertama kali menjalin hubungan dagang. Portugis memaksa melakukan monopoli perdagangan. Tentu saja hal itu ditentang Ternate sehingga terjadi perang terbuka.

Pada tahun 1575 Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Ternate. Wilayah dan pengaruh Sultan Baabullah sangat luas, meliputi Mindanao, seluruh kepulauan di Maluku, Papua, dan Timor. Bersamaan dengan itu, agama Islam juga tersebar sangat luas. Kerajaan Ternate telah berhasil membangun armada laut yang cukup kuat sehingga mampu melindungi wilayahnya yang cukup luas tersebut.

Kehidupan Ekonomi

Kehidupan rakyat Maluku yang utama adalah pertanian dan perdagangan. Tanah di Kepulauan Maluku sangat subur dengan hasil utamanya cengkih dan pala. Keduanya merupakan rempah-rempah yang sangat diperlukan untuk ramuan obat-obatan dan bumbu masak karena mengandung bahan pemanas. Oleh karena itu, rempah-rempah banyak diperlukan di daerah dingin, seperti di Eropa. Dengan hasil rempah-rempahnya maka aktivitas pertanian dan perdagangan rakyat Maluku maju dengan pesat.

Kehidupan Sosial-Budaya

Kedatangan Portugis di Maluku tidak hanya untuk berdagang dan mendapatkan rempah-rempah, tetapi Portugis juga menyebarkan agama Katolik. Pada tahun 1534 missionaris Katolik, Fransiscus Xaverius telah berhasil menyebarkan agama Katolik di Halmahera, Ternate, dan Ambon. Telah kita ketahui bahwa sebelumnya di Maluku telah berkembang agama Islam. Dengan demikian, kehidupan agama telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat Maluku. Rakyat Maluku aktivitas banyak tercurah pada perekonomian sehingga sedikit menghasilkan budaya. Salah satu karya seni bangun yang terkenal ialah Istana Sultan Ternate dan masjid kuno di Ternate.

Penyebab Runtuhnya

Penyebab runtuhnya Kerajaan Ternate-Tidore secara umumnya disebabkan oleh Bangsa Portugis dan Spanyol yang mengadu domba antara dua kerajaan tersebut. Bangsa Portugis yang datang ke Ternate bersekutu dengan Kerajaan Ternate (1512). Demikian juga ketika bangsa Spanyol datang ke Tidore, mereka juga bersekutu dengan bangsa itu (1512). Hingga pada akhirnya kerajaan tersebut pun runtuh.

Peninggalan Kerajaan

·         Istana Sultan Ternate

·         Benteng Kerajaan Ternate

·         Masjid di Ternate

·         Istana Sultan Ternate

 

6.      Kerajaan Tidore


Awal Perkembangan Kerajaan Tidore

Kerajaan tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah raja-raja Ternate dan Tidore, Raja Ternate pertama adalah Muhammad Naqal yang naik tahta pada tahun 1081 M. Baru pada tahun 1471 M, agama Islam masuk di kerajaan Tidore yang dibawa oleh Ciriliyah, Raja Tidore yang kesembilan. Ciriliyah atau Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.

Raja Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada.

Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Makean Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.

Kemunduran Kerajaan Tidore

Kemunduran Kerajaan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kerajaan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing ( Spanyol dan Portugis ) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

Peninggalan

·         Benteng-benteng peninggalan portugis

·         Keraton Tidore

·         Keraton Tidore

 

7.      Kesultanan Gowa Tallo


Nama kerajaan ini hanyalah Kerajaan Gowa, tetapi kemudian berdiri juga Kerajaan tallo. Hanya selang 2 abad saja pendiriannya. Pendirinya pun juga orang Gowa. Lebih tepatnya adalah seorang pangeran dari Gowa. Makanya di abad ke -16, Kerajaan Gowa pun berhasil melancarkan agresi militernya untuk meminta Tallo bergabung bersama Gowa. Disetujui, karena memang visi misi mereka saat itu sama, yakni mengusir penjajah.

Biasanya sebuah kerajaan lahir dari bekas wilayah kerajaan sebelumnya yang runtuh atau karena memisahkan diri dari kerajaan induk. Namun berbeda dengan Kerajaan Gowa Tallo ini. Di mana kerajaan ini justru terbentuk karena sebuah kemufakatakan dari 9 komunitas atau 9 kelompok masyarakat.

Adapun komunitas atau Bate Salapang yang berhasil melahirkan Gowa Tallo ini, yaitu Parang-Parang, lakiung, Tombolo, Sero, Kalili, Bissei, dan Saumata. Mereka bergabung menjadi satu secara sukarela, maka terbentuklah Kerajaan Gowa Tallo.

Tepat pada abad ke -4, kerajaan ini berdiri dengan raja pertamanya, Tumanurung. Kalau dikalkulasikan menjadi tahun adalah sekitar tahun 1300 lalu. Kemudian kerajaan mulai berkembang di awal abad ke-16.

Kehidupan di Kerajaan Gowa Tallo

Semua lini kehidupan kerjaan sama dengan lini kehidupan di dunia nyata, karena memang kerajaan ini pernah ada. Kehidupan ekonomi, kehdiupan poltik, serta semua komponen dalam memakmurkan kehidupan rakyat pun disediakan dan didukung oleh raja-rajanya.

Kehidupan Politik

kekuasaan seorang raja pun sangat diutamakan di sini, sama dengan kerajaan-kerajaan yang lainnya. Untuk itulah raja-raja pun silih berganti memimpin Kerajaan Gowa Tallo. Namun sayang, saat tangan penjajah ikut campur, satu per satu wilayah di Kerajaan Makassar ini pun melepaskan diri. Mereka tergiur dengan penawaran Belanda. Alhasil lahirnya Perjanjian Bongaya.

Perjanjian Bongaya adalah perjanjian yang dibuat oleh Belanda untuk Gowa Tallo. Di mana isinya sangat menyudutkan karena Belanda sudah berhasil menguasai sebagian besar wilayah Sumatra, keculai Makassar. Jadi bisa dikatakan bahwa kehidupan politik di Gowa Tallo sudah mengenal perjanjian-perjanjian bilateral. Perluasan wilayah pun juga syarat akan perjanjian politik di awal berdirinya.

Kehidupan Ekonomi

Sebagai kerajaan yang berjaya di perdagangan maritim, mata pencaharian rakyat Gowa Tallo adalah sebagai pedagang. Mereka sangat sukses, karena pelabuhan dagang di kawasan Makassar sangat ramai. Ketertiban dalam berdagang pun juga sudah tersedia, yakni dengan adanya sebuah hukum niaga Ade’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE. Hukum ini dirasa sangat tepat dan hasilnya, rakyat yang berdagang pun sukses sehingga kehidupannya lebih makmur.

Faktor lain yang menyebabkan pelabuhan Makassar semakin ramai adalah karena Pelabuhan Malaka yang sudah dikuasai oleh Penjajah Portugis, sehingga banyak pedagang asing dan domestik yang pindah haluan ke pelabuhan Makassar.

Kehidupan ekonomi Kerajaan Gowa Tallo ini juga didominasi oleh petani. Di mana letak Kerajaan Gowa yang sangat subur karena dekat dengan laut sebagai sumber irigasi utama. Sedangkan untuk jalur perdagangannya memang berasal dari letaka Tallo yang snagat dekat dengan pesisir.

Kehidupan Budaya

Hukum Pangadakkang menjadi hukum rakyat yang beredar sebagai adat atau budaya yang diyakini oleh rakyat Kerajaan Gowa Tallo ini. Di mana di dalam aturan ini banyak mengatur tentang kehidupan bermasyarakat. Di dalam praktiknya, ada tigaa macam perbedaan nama kelas masyarakat Gowa Tallo, yakni ada sebutan “to Maradeka” untuk golongan masyarakat kelas menengah, Anakarung (Karaeng) untuk masyarakat kelas atas, dan “ata” untuk masyarakat kelas bawah.

Adapun hasil dari kebudayaan yang berkembang di Gowa Tallo adalah kapal Pinisi. Rakyat Gowa Tallo memang pencipta Kapal Pinisi. Selain kapal Pinisi, ada juga jenis Kapal Lombo yang nggak kalah terkenal bahkan sampai ke luar negeri.

Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan kerajaan Gowa Tallo ini sebelum ada raja-raja yang memimpin adalah menggunakan sistem pemerintahan ganda. Lho, kok bisa. Jadi ada kerajaan di dalam kerajaan donk jadinya. Hal tersebut dirarenakan asal-usul Kerajaan Gowa Tallo yang dulunya adalah dua kerajaan yang berbeda. Keduanya melebur menjadi satu karena memiliki rasa senasib sepenanggungan. Namun perdamaian dan penggabungan dua kerajaan ini tidaklah mudah.

Peperangan pun terus dilakukan antara dua kerajaan sehingga salah satu harus mengalami kekalahan. Kerajaan Tallo harus bergabung dengan kerajaan Gowa, sehingga mempengaruhi sistem pemerintahan di Gowa Tallo ( nama setelah kedua kerajaan tersebut melebur menjadi satu). Sistem pemerintahan ganda yang dimaksud dalam Kerajan Makassar (nama lain Kerajaan gowa Tallo) ini adalah dengan mengangkat raja berasal dari Kerajaan Gowa dan perdana menterinya berasal dari Kerajaan Tallo. Cukup adil ya, jadi nggak seperti nasib kerajaan jajahan yang tidak dianggap hidup.

Sistem pemerintahan berbasis Islam pun juga kemudian menghiasi masa perjalanan Kerajaan Gowa Tallo. Di mana sistem kerajaan ini disesuaikan dengan syariat agama Islam. Hal ini sangat didukung dengan kekhusyu’an rakyat Gowa Tallo dam memeluk agama Islam.

Agama

Perkembangan agama Islam di Kerajaan Gowa Taloo ini bisa dibilang sangat lancar. Sejak raja-rajanya menjadi mua’alaf, rakyat pun juga mengikuti. Adapun kerajaan ini dinobatkan sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar di wilayah Sulawesi. Berebagai ajaran Islam pun berkembang pesat di sini, yakni salah satunya adalah ajaran Islam Sufisme Khawatiyah yang diajarkan oleh Syaikh Yusuf al-Makassari. Ajaran ini pun juga disebarluaskan hingga seuruh wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa Tallo.

Serambi Mekah, menjadi slaah satu dari julukan kerajaan Makassar ini, karena ajaran agama Islam berkembang pesat. Banyak orang dari dalam maupun luar kerajaan yang menimba ilmu di Gowa Tallo. Sistem pemerintahan di Gowa Tallo sudah melakukan pengadopsian sistem pemerintahan dari wilayah lain dan kemudian diterjemahkan menurut cara mereka. Bulbeck menyebut kerajaan Gowa tallo sebagai sebuah negara sekunder.

Silsilah Raja Raja

Raja-raja yang memerintah Kerajaan Gowa Tallo sangatlah banyak. Terhitung sejak tahun berdiri sampai kerajaan ini bergabung menjadi salah satu bagian wilayah negara Indonesia. adapun silsilahnya sebagai berikut:

1)      Tumanurung Bainea (±1300)

2)      Tumassalangga Baraya

3)      Puang Loe Lembang

4)      I Tuniatabanri

5)      Karampang ri Gowa

6)      Tunatangka Lopi (±1400)

7)      Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna

8)      Pakere Tau Tunijallo ri Passukki

9)      Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna (awal abad ke-16)

10)  I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)

11)  I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte

12)  I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590)

13)  I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593)

14)  Sultan Alaudin (1591-1629)

Bergelar I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin I Tuminanga ri Gaukanna, raja Gowa Tallo ini mulai berkuasa pada tahun 1 sampai 1629. Dia wafat pada 15 Juni 1639. Yang perlu kalian tahu adalah bahwa raja penguasa Gowa yang paling awal masuk Islam. Prestasi yang ditorehkan oleh raja Gowa Tallo ini adalah tentang rintisan perdagangan dan pelayaran. Yang dijula adalah komoditas sumber daya alam di Gowa Tallo. Pelayaran pun juga didukung penuh karena letak kerajaan yang sangat strategis.

15)  Sultan Muhammad Said ( 1639 – 1653)

Raja Gowa Tallo yang memiliki gelar I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna ini mulai menunjukkan tanda-tanda masa kejayaan Kerajaan Gowa Tallo. Sultan Muhammad Said ini lahir pada 11 Desember 1605 dan wafat pada 6 November 1653. Semangat juang rakyat Gowa Tallo untuk memajukan kehidupan dan mendukung perkembangan kerajaan pun semakin dipacu.

16)  Sultan Hasanuddin (1655-1669)

Nama asli Sultan Hasanuddin adalah I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla’pangkana. Dia lahir pada tanggal 12 Januari 1631. Di tangan beliaulah, masa kejayaan Kerajaan Gowa Tallo dapat terwujud. Perluasan wilayah pun berjalan lancar dengan bukti penambahanwilayah kekuasaan seantero Sulawesi, dan kehidupan ekonomi rakyat meningkat.

17)  I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu’ (1669 hingga 1674)

18)  Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara ( 1674 sampai 1677)

19)  Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung. (1677-1709)

20)  La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)

21)  I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi

22)  I Manrabbia Sultan Najamuddin

23)  I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi; Menjabat untuk kedua kalinya pada tahun 1735

24)  I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)

25)  I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)

26)  Amas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)

27)  I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)

28)  I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)

29)  I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)

30)   

31)   

32)  I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)

33)  La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)

34)  I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna (1826 – 1893)

35)  I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893 – 1895)

36)  I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu’na (1895- 1906)

37)  I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa (1936-1946)

38)  Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1946-1978).

Raja ini adalah raja terakhir dalam sejarah Kerajaan Gowa Tallo, karena kemudian kerajaan ini menjadi kabupaten yang ada di Sulawesi tenggara setelah bergabung dengan wilayah negara Indonesia.Bahkan raja ini juga yang memutuskan untuk bergabung dengan Indonesia setelah melalui pemikiran yang panjang. Jadi, Gowa Tallo sampai sekarang masih dirawat dan ada beberapa acara warisan nenek moyang yang dilaksanakan.

Masa Kejayaan

Kehidupan ekonomi rakyat Gowa Tallo yang makmur karena dekat dengan pelabuhan dagang Makassar ini membuat masa-masa kejayaan Kerajaan Gowa Tallo ini bisa direngkuh. Di mana kerajaan ini berhasil menggenggam masa kejayaannya di masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Sembilan wilayah yang sudah dikuasai oleh Gowa tallo di awal tahun berdirinya itu tetap bertahan dan ditambah dengan 4 wilayah lainnya, yakni Bone, Ruwu, Soppeng, dan Wajo. Hampir samapi ke wilayah NTB ( Nusa Tenggara Barat) juga lho.

Saat itu, belanda sudah menguasai Ambon dan ingin menguasai kerajaan Makassar ini. Namun ketegasan dan konsistensi Sultan Hasanuddin menolak dengan sangat keras. Kehidupan kerajaan pun diatur sendiri dengan sistem yang ada di dalam kerajaan. Si Ayam Jantan dari Timur, adalah julukan yang diberikan kepada Sultan Hasanuddin. Dia berhasil mengusir belanda dari tanah Sulawesi. Hingga akhirnya tidak ada lagi gangguan dari Belanda.

Penyebab Runtuhnya

Seperti yang sudah penulis katakan sebelumnya, bahwa kegoyahan Kerajaan Gowa Tallo ini adalah karena kehadiran penjajah Belanda. Padahal sebelumnya, saat dipimpin raja-raja sebelum Sultan Hasanuddin, Gowa Tallo aman-aman saja. Karena rasa nasionalisme yang tinggi, membuat Sultan Hasanuddin peduli kepada Tanah Air, sehingga berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan Belanda dan mengusirnya dari Bumi Pertiwi.

Perjuangan itu pun diteruskan oleh putranya, bernama Sultan Mapasomba. Pasukan militernya semakin diperkuat, namun hasilnya, kalah. Kalah cerdik dan kalah persenjataan, tepatnya. Nah inilah yang menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Gowa Tallo.

Peninggalan / Prasasti

Kerajaan Gowa Tallo memiliki peninggalan sejarah yang bukan berupa prasasti ya, soalnya udah jadi kerajaan Islam di awal tahun berdirinya. Di mana bentuk peninggalannya adalah masjid, benteng, dan makam.

·         Masjid Katangka (1605)

Peninggalan sejarah Gowa Tallo ini pas banget dengan corak kerajaan Islam yang melekat di dalam image kerajaan. Di mana tahun berdirinya adalah pada tahun 1605. Sudah berkali0kali pemugaran dilakukan demi keawetan masjid sehingga sampai sekarang masih bisa digunakan.

·         Benteng Fort Rotterdam (1545)

Benteng peninggalan kerajaan Gowa Tallo ini pun menjadi salah satu tempat destinasi wisata yang ada di Makassar. View bangunan benteng Belanda ini sangatlah bagus. I manrigau Daeng Bonto Karaeng lakiung Tumapa’risi’ kallonna memang pandai memilih lokasi, karena benteng ini letaknya di pinggir pantai. Bisa bayangin kan gimana sepoi-sepoinya. Benteng Ujung Pandang ini sudah mengalami sekali renovasi, yakni penggantian bahan baku tanah liat menjadi batu padas. Jadi masih tetap awet dan gagah sampai sekarang. Kalian juga perlu tahu kalau batu padasnya diambil dari Pegunungan Karst.

Benteng unik ini dibangun pada abad ke-14, sama dengan tahun berdirinya kerajaan pada saat masa pemerintahan Sultan Alauddin. Uniknya, bentuk benteng ini menyerupai penyu yang berjalan di pantai untuk melaut.

·         Komplek pemakaman raja-raja Kerajaan Gowa Tallo (abad 16-19 M)

Letak area pemakaman ini adalah di Kecamtan Talo, Ujungpandang. Sesuai dengan namanya, tempat ini adalah makan dari raja-raja Gowa Tallo. Kalian bisa menyusuri sejarahnya di sini. Pemakaman ini unik dan sudah menggunakan corak pemakanan umat islam, yakni menggunakan batu nisan. Namun uniknya, batu nisannya sangat besar dan tinggi. Berundak-undak juga, menyerupai candi kecil.

Kerajaan Gowa Tallo berada di Pulau Sulawesi, tepatnya adalah di Kabupaten Gowa. Kalau kalian mau melihat peta, silahkan melihat langsung Provinsi Ulawesi Selatan. Kerajaan ini berada di daerah pesisirnya. Kalau masih bingung, lihat saja wilayah Makasaar. Nah di situ tu pusat perdagangan yang dilakukan oleh rakyat Gowa Tallo. Bayangkan ramainya arus maritim dengan masuk keluarnya pedangang dalam maupun luar negeri. Soalnya Kerajaan Gowa Tallo ini dikenal sebagai penguasa perdagangan maritim Indonesia. Serambi Mekahnya Sumatra, karena Aceh juga disebut Serambi Mekkah. Perkembangan agama Islam sangat baik di kerajaan ini. Hal ini mendukung kegiatan pembelajaran yang dilakukanoleh para ulama.

Dari segi kehidupan ekonomi, rakyat Gowa Tallo nggak kalah makmur dengan rakyat kerajaan lain. Bertani dan berdagang menjadi profesi yang sangat mendominasi. Laba semakin besar karena Malaka telah dilumpuhkan Belanda. Masa kejayaan kerajaan Gowa Tallo ini pun terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Kekuatan militer dikembangkan, dan kemudian berhasil mengusir penjajah Belanda di Tanah Air. Namun sayang, setelah masa kejayaan, selanjutnya ada penyebab runtuhnya kerajaan. Kerajaan Gowa Tallo harus mengikuti perjanjian dengan Belanda karena wilayah kekuasaannya sudah dikepung Belanda.

Comments

Popular posts from this blog

Kerajaan-Kerajaan Maritim di Indonesia Pada Masa Hindu-Budha (SEJARAH PEMINATAN KLS XI IPS)

ANCAMAN DISINTEGRASI BANGSA PADA TAHUN 1948 - 1965

ABAD PENCERAHAN