Perlawanan Terhadap Belanda
Perlawanan
Terhadap Belanda (lanjutan)
1.
Perang Padri
Perang
Padri terjadi di tanah Minangkabau, Sumatera Barat pada tahun 1821– 1837.
Perang ini digerakkan oleh para pembaru
Islam yang sedang
konflik dengan kaum Adat. Mengapa dan bagaimana Perang
Padri itu terjadi?
Perang Padri sebenarnya merupakan perlawanan kaum Padri
terhadap dominasi pemerintahan Hindia Belanda
di Sumatera Barat. Perang ini bermula
adanya pertentangan antara kaum Padri dengan kaum Adat. Adanya
pertentangan antara kaum Padri dengan kaum Adat telah menjadi pintu masuk bagi campur tangan
Belanda. Perlu dipahami
sekalipun masyarakat Sumatera Barat
sudah memeluk agama Islam, tetapi
sebagian masyarakat masih
memegang teguh adat dan kebiasaan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Sejak akhir abad ke-18 telah datang seorang ulama dari
kampung Kota Tua di daratan
Agam. Karena berasal
dari kampung Kota Tua maka ulama
itu terkenal dengan nama Tuanku Kota
Tua. Tuanku Kota Tua ini
mulai mengajarkan pembaruan-pembaruan dan praktik agama Islam. Dengan melihat realitas kebiasaan masyarakat, Tuanku Kota Tua menyatakan bahwa masyarakat Minangkabau sudah begitu jauh
menyimpang dari ajaran
Islam. Ia menunjukkan bagaimana seharusnya masyarakat itu
hidup sesuai dengan Al Quran dan Sunah Nabi. Di antara murid dari Tuanku Kota Tua ini adalah Tuanku
Nan Renceh. Kemudian pada tahun 1803 datanglah tiga orang ulama yang baru saja pulang haji dari tanah suci Mekah,
yakni: Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piabang.
Mereka melanjutkan gerakan pembaruan
atau pemurnian pelaksanaan ajaran Islam seperti yang pernah dilakukan oleh Tuanku Kota Tua. Orang-orang yang melakukan gerakan pemurnian pelaksanaan ajaran
Islam di Minangkabau itu sering dikenal
dengan kaum Padri. Mengenai sebutan padri ini sesuai dengan sebutan
orang Padir di Aceh. Padir itu tempat
persinggahan para jamaah haji. Orang Belanda menyebutnya dengan padri yang
dapat dikaitkan dengan kata padre dari bahasa Portugis untuk menunjuk orang-orang Islam yang
berpakaian putih. Sementara kaum Adat di Sumatera Barat
memakai pakaian hitam.
Dalam melaksanakan pemurnian praktik
ajaran Islam, kaum Padri menentang praktik
berbagai adat dan kebiasaan kaum Adat yang memang dilarang dalam ajaran Islam
seperti berjudi, menyabung ayam, minum-minuman
keras. Kaum Adat yang mendapat dukungan dari beberapa pejabat penting kerajaan
menolak gerakan kaum Padri. Terjadilah pertentangan
antara kedua belah pihak.
Timbullah bentrokan antara keduanya.
Tahun 1821 pemerintah Hindia
Belanda mengangkat James Du Puy sebagai
residen di Minangkabau. Pada tanggal 10 Februari 1821, Du Puy mengadakan perjanjian persahabatan dengan tokoh
Adat, Tuanku Suruaso
dan 14 Penghulu Minangkabau. Berdasarkan perjanjian ini maka
beberapa daerah kemudian diduduki oleh Belanda. Pada tanggal 18 Februari
1821, Belanda yang telah diberi
kemudahan oleh kaum Adat berhasil
menduduki Simawang. Di daerah ini telah ditempatkan dua meriam dan 100 orang serdadu Belanda. Tindakan Belanda
ini ditentang keras oleh kaum Padri, maka tahun 1821 itu meletuslah Perang Padri
Perang
Padri di Sumatera Barat ini dapat dibagi dalam tiga fase.
Fase pertama (1821-1825)
Pada fase pertama, dimulai gerakan kaum Padri menyerang
pos-pos dan pencegatan terhadap patroli-patroli Belanda. Bulan September 1821 pos-pos Simawang menjadi
sasaran serbuan kaum padri. Juga pos-pos lain seperti
Soli Air, Sipinang dan lain-lain. Kemudian
Tuanku Pasaman menggerakkan sekitar 20.000 sampai 25.000
pasukan untuk mengadakan serangan di sekitar
hutan di sebelah
timur gunung. Pasukan
Padri menggunakan senjata- senjata tradisional, seperti tombak,
dan parang. Sedangkan Belanda dengan
kekuatan 200 orang serdadu Eropa
ditambah sekitar 10.000
pasukan orang pribumi termasuk juga kaum Adat,
menggunakan senjata-senjata lebih lengkap,
modern seperti meriam dan senjata api lainnya. Pertempuran ini memakan banyak
korban. Di pihak
Tuanku Pasaman kehilangan 350 orang prajurit, termasuk putra Tuanku Pasaman. Begitu juga Belanda
tidak sedikit kehilangan pasukannya. Tuanku Pasaman
dengan sisa pasukannya kemudian mengundurkan diri ke Lintau. Sementara
itu pasukan Belanda
setelah berhasil menguasai
seluruh lembah Tanah Datar, kemudian mendirikan benteng di Batusangkar yang
kelak terkenal dengan
sebutan Front Van der Capellen.
Perlawanan kaum Padri muncul di berbagai tempat. Tuanku Pasaman memusatkan perjuangannya di Lintau dan Tuanku Nan Renceh
memimpin pasukannya di sekitar Baso. Pasukan Tuanku Nan Renceh harus menghadapi
pasukan Belanda di bawah pimpinan
Kapten Goffinet. Periode
tahun 1821
- 1825, serangan-serangan kaum Padri memang meluas di
seluruh tanah Minangkabau. Bulan September 1822 kaum Padri
berhasil mengusir Belanda dari Sungai
Puar, Guguk Sigandang dan Tajong Alam. Menyusul
kemudian di Bonio kaum
Padri harus menghadapi menghadapi pasukan PH. Marinus.
Pada tahun 1823 pasukan Padri berhasil mengalahkan tentara Belanda di Kapau. Kemudian kesatuan kaum Padri
yang terkenal adalah
yang berpusat di Bonjol.
Pemimpin mereka adalah
Peto Syarif. Peto
Syarif inilah yang
dalam sejarah Perang
Padri dikenal sebagai
Tuanku Imam Bonjol. Ia sangat gigih memimpin kaum
Padri untuk melawan
kekejaman dan keserakahan Belanda di tanah Minangkabau.
Karena merasa kewalahan dalam melawan kaum Padri, maka
Belanda mengambil strategi damai. Oleh karena itu, pada tanggal 26 Januari 1824 tercapailah
perundingan damai antara Belanda dengan kaum Padri di wilayah Alahan Panjang. Perundingan
ini dikenal dengan Perjanjian Masang. Tuanku Imam Bonjol juga tidak keberatan
dengan adanya perjanjian damai tersebut. Akan
tetapi Belanda justru dimanfaatkan perdamaian tersebut untuk menduduki
daerah-daerah lain. Kemudian Belanda juga memaksa Tuanku Mensiangan dari
Kota Lawas untuk
berunding, tetapi ditolak. Tuanku Mensiangan justru
melakukan perlawanan. Tetapi Belanda
lebih kuat bahkan
pusat pertahannya kemudian dibakar dan Tuanku
Mensiangan ditangkap. Tindakan Belanda itu telah menimbulkan amarah kaum Padri Alahan Panjang dan menyatakan pembatalan
kesepatakan dalam Perjanjian Masang. Tuanku Imam
Bonjol menggelorakan kembali semangat untuk melawan Belanda. Dengan demikian
perlawanan kaum Padri masih terus berlangsung di
berbagai tempat.
Fase kedua (1825-1830)
Coba ingat-ingat angka tahun 1825-1830 itu. Kira-kira
terkait dengan peristiwa apa angka tahun
tersebut. Peristiwa itu jelas di luar Sumatera
Barat. Tahun itu merupakan tahun yang sangat
penting, sehingga bagi Belanda digunakan sebagai bagian strategi dalam
menghadapi perlawanan kaum Padri di
Sumatera Barat. Bagi Belanda tahun itu digunakan untuk sedikit mengendorkan
ofensifnya dalam Perang Padri. Upaya damai diusahakan sekuat tenaga. Oleh karena itu, Kolonel De Stuers yang merupakan penguasa sipil dan militer di
Sumatera Barat berusaha mengadakan kontak dengan
tokoh-tokoh kaum Padri
untuk menghentikan perang
dan sebaliknya perlu mengadakan perjanjian damai. Kaum
Padri tidak begitu menghiraukan ajakan damai dari
Belanda, karena Belanda
sudah biasa bersikap
licik. Belanda kemudian
minta bantuan kepada seorang saudagar keturunan Arab yang bernama Sulaiman
Aljufri untuk mendekati dan membujuk para pemuka
kaum padri agar dapat diajak berdamai. Sulaiman
Aljufri menemui Tuanku
Imam Bonjol agar
bersedia berdamai dengan
Belanda. Tuanku Imam Bonjol
menolak. Kemudian menemui Tuanku Lintau
ternyata merespon ajakan damai itu. Hal ini juga didukung Tuanku Nan Renceh. Itulah
sebabnya pada tanggal 15 November 1825
ditandatangani Perjanjian Padang.
Isi Perjanjian Padang itu
antara lain :
1.
Belanda mengakui kekuasaan
pemimpin Padri di Batusangkar, Saruaso, Padang
Guguk Sigandang, Agam,
Bukittinggi dan menjamin pelaksanaan sistem agama di daerahnya.
2.
Kedua belah pihak tidak akan
saling menyerang
3.
Kedua pihak akan melindungi para pedagang dan orang-orang yang sedang
melakukan perjalanan
4.
Secara bertahap Belanda akan
melarang praktik adu ayam.
Fase ketiga (1830 –
1837/1838)
Nah, tentu kamu sudah menemukan
jawaban peristiwa tahun 1825-1830 di Jawa. Peristiwa itu adalah Perang
Diponegoro. Setelah Perang
Diponegoro berakhir pada
tahun 1830, semua kekuatan Belanda dikonsentrasikan ke Sumatera Barat untuk menghadapi perlawanan kaum Padri.
Dimulailah Perang Padri fase ketiga .
Pada pertempuran fase ketiga ini kaum Padri mulai
mendapatkan simpati dari kaum Adat.
Dengan demikian kekuatan
para pejuang di Sumatera Barat
akan meningkat. Orang-orang Padri yang mendapatkan dukungan kaum Adat
itu bergerak ke pos-pos tentara
Belanda. Kaum Padri
dari Bukit Kamang
berhasil memutuskan sarana
komunikasi antara benteng
Belanda di Tanjung
Alam dan Bukittinggi. Tindakan kaum Padri
itu dijadikan Belanda
di bawah Gillavry untuk menyerang Koto Tuo di Ampek Angkek, serta membangun benteng pertahanan dari Ampang Gadang sampai ke Biaro. Batang
Gadis, sebuah nagari yang memiliki posisi
sangat strategis terletak
antara Tanjung Alam dan Batu Sangkar
juga diduduki. Tahun 1831
Gillavary digantikan oleh Jacob Elout. Elout ini telah mendapatkan pesan dari Gubernur
Jenderal Van den Bosch agar melaksanakan serangan besar-besaran terhadap
kaum Padri.
Elout segera mengerahkan pasukannya untuk menguasai beberapa nagari, seperti
Manggung dan Naras. Termasuk daerah
Batipuh. Setelah menguasai Batipuh, serangan Belanda ditujukan ke
Benteng Marapalam. Benteng ini merupakan kunci
untuk dapat menguasai Lintau. Karena bantuan
dua orang Padri yang berkhianat dengan menunjukkan jalan
menuju benteng kepada Belanda, maka pada Agustus 1831
Belanda dapat menguasai Benteng Marapalam tersebut. Dengan
jatuhnya benteng ini maka beberapa nagari di sekitarnya ikut menyerah.
Seiring dengan datangnya bantuan pasukan dari Jawa pada
tahun 1832 maka Belanda
semakin meningkatkan ofensif
terhadap kekuatan kaum
Padri di berbagai daerah. Pasukan yang
datang dari Jawa
itu antara lain
pasukan legium Sentot Ali Basah Prawirodirjo dengan 300 prajurit
bersenjata. Tahun 1833
kekuatan Belanda sudah
begitu besar.
Dengan kekuatan yang
berlipat ganda Belanda melakukan penyerangan terhadap pos-pos pertahanan
kaum Padri. Banuhampu, Kamang, Guguk Sigandang, Tanjung Alam, Sungai Puar, Candung
dan beberapa nagari
di Agam. Dalam
catatan sejarah kolonial penyerangan di berbagai
tempat itu, penyerangan terhadap Guguk Sigandang
merupakan cacatan hitam karena disertai dengan
penyembelihan dan penyincangan terhadap tokoh-tokoh dan pasukan kaum Padri bahkan terhadap mereka yang dicurigai
sebagai pendukung Padri. Pada waktu penyerbuan Kamang,
pasukan Belanda dapat
mendapat perlawanan sengit,
bahkan 100 orang pasukan Belanda
termasuk perwira terbunuh. Baru hari berikutnya dengan mengerahkan kekuatannya, Belanda dapat menguasai Kamang. Dalam serangkaian
pertempuran itu banyak kaum Padri telah menjadi korban,
termasuk tokoh Tuanku Nan Cerdik dapat ditangkap.
Di samping strategi
militer, setelah
Van den Bosch berkunjung ke Sumatera Barat, diterapkan strategi winning the heart
kepada masyarakat. Pajak
pasar dan berbagai jenis
pajak mulai dihapuskan. Penghulu yang kehilangan penghasilan akibat
penghapusan pajak, kemudian
diberi gaji 25-30 golden. Para kuli yang bekerja untuk
pemerintah Belanda juga diberi gaji 50 sen sehari. Elout digantikan oleh
E. Francis yang
tidak akan mencampuri urusan pemerintahan tradisional di Minangkabau. Kemudian
dikeluarkan Plakat Panjang. Plakat Panjang
adalah pernyataan atau janji khidmat
yang isinya tidak akan ada
lagi peperangan antara Belanda dan kaum Padri. Setelah pengumuman Plakat Panjang ini kemudian Belanda mulai
menawarkan perdamaian kepada para pemimpin Padri.
2.
Perang Diponegoro
Sebelum mempelajari bagaimana Perang Diponegoro itu berlangsung, coba renungkan
beberapa beberapa pertanyaan berikut !
a. Siapakah Pangeran Diponegoro itu?
b. Benarkah Pangeran Diponegoro pejuang yang cinta
tanah air ?
c. Buktikan bahwa Pangeran Diponegoro memperjuangkan
nilai-nilai kemanusiaan!
d. Benarkah Pangeran Diponegoro merupakan pemimpin dan pejuang yang sangat menghargai kerja sama
dengan sesama pejuang
e. Buktikan bahwa Pangeran Diponegoro adalah seorang pemimpin
bukan sekedar manajer !
f. Dalam berjuang Pangeran Diponegoro tetap mendasarkan pada nilai-nilai kesyukuran dan keimanan. Coba tunjukkan
buktinya.
Memasuki abad ke-19, keadaan di Jawa khususnya di Surakarta
dan Yogyakarta semakin
memprihatinkan. Intervensi pemerintah kolonial terhadap pemerintahan lokal tidak jarang mempertajam konflik yang sudah ada dan atau dapat
melahirkan konflik baru di lingkungan kerajaan. Hal ini juga
terjadi di Surakarta dan Yogyakarta. Campur tangan kolonial itu juga membawa pergeseran adat dan budaya
keraton yang sudah lama ada di keraton
bahkan melahirkan budaya Barat yang
tidak sesuai dengan
budaya Nusantara, seperti
minum-minuman keras. Dominasi pemerintahan kolonial juga telah
menempatkan rakyat sebagai objek
pemerasan, sehingga semakin menderita. Pada
waktu itu pemerintah kerajaan mengizinkan perusahaan asing menyewa tanah sawah untuk kepentingan perusahaan. Pada umumnya
tanah itu disewa dengan penduduknya sekaligus. Akibatnya, para petani
tidak dapat mengembangkan hidup dengan
pertaniannya, tetapi justru menjadi tenaga
kerja paksa. Rakyat
tetap hidup menderita.
rakyat itu semakin berat, karena diwajibkan membayar
berbagai macam pajak, seperti:
(a) welah-welit (pajak
tanah),
(b) pengawang-awang (pajak halaman kekurangan),
(c) pecumpling
(pajak jumlah pintu),
(d) pajigar
(pajak ternak),
(e) penyongket
(pajak pindah nama),
dan
(f) bekti (pajak menyewa
tanah atau menerima jabatan). Di samping berbagai pajak itu masih ada pajak
yang ditarik di tempat pabean atau tol. Semua lalu lintas pengangkut barang juga dikenai pajak.
Bahkan seorang ibu
yang menggendong anak
di jalan umum juga harus
membayar pajak.
Sementara itu dalam kehidupan sosial kemasyarakatan
terdapat jurang pemisah antara rakyat dengan punggawa kerajaan dan
perbedaan status sosial antara rakyat
pribumi dengan kaum kolonial. Adanya jurang
pemisah antara si kaya dan si miskin, antara rakyat dan kaum kolonial,
sering menimbulkan kelompok-kelompok yang tidak puas sehingga sering
menimbulkan kekacauan.
Dalam suasana penderitaan rakyat dan kekacauan
itu tampil seorang bangsawan, putera Sultan Hamengkubuwana III yang bernama
Raden Mas Ontowiryo atau lebih terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro merasa tidak puas
dengan melihat penderitaan rakyat dan kekejaman serta kelicikan Belanda. Pangeran
Diponegoro merasa sedih dengan
menyaksikan masuknya budaya Barat yang tidak sesuai dengan budaya Timur. Oleh
karena itu, Pangeran Diponegoro berusaha menentang dominasi Belanda yang kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Tanggal
20 Juli 1825 meletuslah Perang
Diponegoro.
Bermula dari insiden anjir
Sejak tahun 1823,
Smissaert diangkat sebagai
residen di Yogyakarta. Tokoh Belanda ini
dikenal sebagai tokoh yang sangat anti terhadap Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu, Smissaert bekerja sama
dengan Patih Danurejo berusaha
menyingkirkan Pangeran Diponegoro dari istana Yogyakarta.
Pada suatu hari di tahun 1825 Smissaert dan Patih Danurejo
dalam rangka membuat jalan baru memerintahkan anak buahnya untuk
memasang anjir(pancang/patok). Secara sengaja pemasangan anjir ini melewati pekarangan milik
Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa
izin. Pangeran Diponegoro memerintahkan
rakyat untuk mencabuti anjir tersebut.
Kemudian Patih Danurejo memerintahkan memasang kembali anjir-anjir itu dengan dijaga pasukan Macanan
(pasukan pengawal kepatihan). Dengan keberaniannya pengikut Pangeran Diponegoro
mencabuti anjir/patok-patok itu dan digantikannya dengan tombak-tombak
mereka. Berawal dari insiden anjir inilah meletus Perang Diponegoro.
Kala itu tanggal 20 Juli 1825 sore hari, rakyat Tegalreja berduyun-duyun berkumpul di dalem
Tegalreja dengan membawa berbagai
senjata seperti pedang, tombak, lembing dan lain-lain. Mereka menyatakan setia kepada
Pangeran Diponegoro dan mendukung perang
melawan Belanda. Belanda datang dan mengepung dalem Tegalreja. Pertempuran sengit antara pasukan
Diponegoro dengan serdadu Belanda tidak dapat dihindarkan. Tegalreja dibumi hangus. Dengan berbagai
pertimbangan, Pangeran Diponegoro dan pasukannya menyingkir ke arah selatan
ke Bukit Selarong.
Pangeran Diponegoro adalah pemimpin
yang tidak individualis. Beliau sangat
memperhatikan keselamatan anggota keluarga dan anak buahnya. Sebelum melanjutkan perlawanan Pangeran Diponegoro harus mengungsikan anggota keluarga, anak-anak
dan orang-orang yang sudah lanjut usia ke Dekso
(daerah Kulon Progo). Untuk mengawali perlawanannya terhadap Belanda Pangeran Diponegoro membangun benteng pertahanan di
Gua Selarong. Dalam memimpin perang
ini Pangeran Diponegoro mendapat
dukungan luas baik masyarakat, para
punggawa kerajaan dan para bupati. Tercatat 15 dari dari 29 pangeran dan 41 dari 88 bupati bergabung dengan
Pangeran Diponegoro.
Mengatur strategi
dari Selarong
Dari Selarong, Pangeran Diponegoro
menyusun strategi perang. Dipersiapkan beberapa tempat untuk markas komando
cadangan. Kemudian Pangeran Diponegoro menyusun langkah-langkah.
(1). Merencanakan serangan ke keraton Yogyakarta
dengan
mengisolasi pasukan Belanda
dan mencegah masuknya
bantuan dari luar.
(2).
Mengirim kurir
kepada para bupati
atau ulama agar
mempersiapkan peperangan melawan Belanda.
(3) Menyusun daftar nama
bangsawan, siapa yang sekiranya kawan dan siapa lawan.
(4) Membagi kawasan Kesultanan Yogyakarta menjadi beberapa mandala
perang, dan mengangkat para pemimpinnya. Pangeran Diponegoro telah
membagi menjadi 16 mandala perang,
misalnya: Yogyakarta dan sekitarnya
di bawah komando Pangeran Adinegoro (adik Diponegoro) diangkat sebagai
patih dengan gelar Suryenglogo. Bagelen diserahkan kepada Pangeran Suryokusumo dan Tumenggung Reksoprojo. Perlawanan di daerah Kedu diserahkan kepada Kiai Muhammad Anfal dan
Mulyosentiko. Bahkan di daerah Kedu
Pangeran Diponegoro juga mengutus Kiai Hasan Besari mengobarkan Perang Sabil
untuk memperkuat pasukan
yang telah ada.
Pangeran Abubakar didampingi Pangeran Muhammad memimpin
perlawanan di Lowanu. Perlawanan di
Kulon Progo diserahkan kepada Pangeran Adisuryo dan Pangeran Somonegoro. Yogyakarta
bagian utara dipimpin oleh Pangeran Joyokusumo. Yogyakarta bagian timur diserahkan kepada Suryonegoro, Somodiningrat, dan Suronegoro. Perlawanan
di Gunung Kidul dipimpin oleh Pangeran Singosari.
Daerah Plered dipimpin oleh Kertopengalasan. Daerah Pajang diserahkan kepada
Warsokusumo dan Mertoloyo, dan daerah Sukowati dipimpin oleh Tumenggung Kertodirjo dan Mangunnegoro. Gowong dipimpin oleh Tumenggung Gajah Pernolo. Langon
dipimpin oleh Pangeran Notobroto Projo. Serang dipimpin
oleh Pangeran Serang.
Sebagai pucuk pimpinan
Pangeran Diponegoro didampingi oleh Pangeran Mangkubumi (paman Pangeran Diponegoro), Ali Basyah Sentot
Prawirodirjo sebagai panglima muda,
dan Kiai Mojo bersama murid-muridnya. Nyi Ageng Serang yang sudah berusia 73 tahun bersama
cucunya
R.M. Papak bergabung bersama pasukan
Pangeran Diponegoro. Nyi Ageng Serang (nama aslinya
R.A. Kustiah Retno
Edi), sejak remaja sudah anti terhadap Belanda dan pernah membantu ayahnya (Panembahan
Serang) untuk melawan Belanda.
Perluasan
perang di berbagai daerah
Perlawanan Pangeran
Diponegoro terus meningkat. Beberapa pos pertahanan Belanda dapat
dikuasai. Pergerakan pasukan
Pangeran Diponegoro meluas
ke daerah Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang
dan Rembang. Kemudian ke arah timur meluas
ke Madiun, Magetan, terus Kediri dan
sekitarnya. Perang yang
dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro telah mampu menggerakkan kekuatan di seluruh
Jawa. Oleh karena
itu, Perang Diponegoro sering dikenal
dengan Perang Jawa. Semua kekuatan dari rakyat, bangsawan dan para ulama bergerak untuk melawan kekejaman Belanda.
Menghadapi perlawanan Diponegoro yang terus
meluas itu, Belanda berusaha meningkatkan kekuatannya. Beberapa komandan tempur dikirim ke berbagai daerah pertempuran. Misalnya Letkol Clurens
dikirim ke Tegal
dan Pekalongan, kemudian Letkol Diell ke Banyumas. Jenderal de Kock
sebagai pemimpin perang Belanda berusaha meningkatkan kekuatannya. Untuk
menambah kekuatan Belanda, juga didatangkan bantuan tentara Belanda dari
Sumatera Barat.
Belanda berusaha menghancurkan
pos-pos pertahanan pasukan Pangeran Diponegoro. Sasaran
pertama Belanda yaitu pos pertahanan Pangeran Diponegoro di Gua Selarong. Tanggal 4 Oktober 1825 pasukan Belanda
menyerang pos tersebut. Tetapi
ternyata pos Gua Selarong sudah
kosong. Ini memang sebagai
bagian strategi Pangeran
Diponegoro. Pos pertahanan Diponegoro sudah dipindahkan
ke Dekso di bawah pimpinan Ali Basyah Sentot
Prawirodirjo. Pada tahun
1826 pasukan Ali Basyah Sentot
Prawirodirjo ini berhasil
mengalahkan tentara Belanda di daerah-daerah bagian barat(Kulo Progo dan sekitarnya). Sementara itu di Gunung Kidul
pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Pangeran Singosari juga mendapatkan
berbagai kemenangan. Benteng pertahanan Belanda di Prambanan juga berhasil diserang oleh pasukan
Diponegoro di bawah
pimpinan Tumenggung Suronegoro. Plered sebagai
pos pertahanan Diponegoro juga sering mendapat serangan Belanda.
Namun dapat dipertahankan oleh pasukan Diponegoro di bawah Kertopengalasan.

Perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro
senantiasa bergerak dari pos pertahanan yang satu ke pos yang lain. Pengaruh
perlawanan Diponegoro ini semakin meluas. Perkembangan Perang Diponegoro
ini sempat membuat Belanda kebingungan. Untuk menghadapi pasukan
Diponegoro yang bergerak dari pos yang satu ke pos yang lain, Jenderal
de Kock kemudian menerapkan strategi
dengan sistem “Benteng Stelsel” atau “Stelsel
Benteng”. Dengan strategi “Benteng Stelsel” sedikit demi sedikit
perlawanan Diponegoro dapat diatasi. Dalam tahun 1827 perlawanan Diponegoro di beberapa tempat berhasil dipukul
mundur oleh pasukan
Belanda, misalnya di Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Magelang.
Masing-masing tempat dihubungkan
dengan benteng pertahanan. Di samping itu Magelang dijadikan pusat kekuatan
militer Belanda.
Dengan sistem “Benteng Stelsel” ruang gerak pasukan
Diponegoro dari waktu ke waktu semakin
sempit. Para pemimpin yang membantu Diponegoro
mulai banyak yang tertangkap. Tetapi perlawanan rakyat masih terjadi d beberapa
tempat. Pasukan Diponegoro di Banyumeneng harus bertahan dari serangan Belanda.
Di Rembang di bawah pimpinan
Raden Tumenggung Ario Sosrodilogo, rakyat mengadakan perlawanan di daerah Rajegwesi. Namun perlawanan di Rembang dapat dipatahkan oleh Belanda pada bulan Maret
1828. Sementara itu pasukan Diponegoro di bawah Sentot Prawirodirjo justru berhasil menyerang benteng
Belanda di Nanggulan (daerah di Kulon
Progo sekarang). Dalam penyerangan ini berhasil menewaskan Kapten Ingen. Peristiwa penyerangan benteng
di Nanggulan ini mendapat perhatian para pemimpin tempur Belanda.
Pasukan Belanda dikonsentrasikan untuk mendesak dan mempersempitkan ruang gerak pasukan
Sentot Prawirodirjo dan kemudian
mencoba untuk didekati
agar mau berunding. Ajakan Belanda ini berkali-kali ditolaknya. Belanda
kemudian meminta bantuan
kepada Aria Prawirodiningrat untuk membujuk Sentot
Prawirodirjo. Pertahanan hati Sentot
Prawirodirjo pun luluh,
dan menerima ajakan
untuk berunding. Pada tanggal
17 Oktober 1829 ditandatangani Perjanjian Imogiri antara Sentot Prawirodirjo dengan pihak Belanda.
Isi perjanjian itu antara lain:
1. Sentot Prawirodirjo diizinkan untuk tetap memeluk agama Islam,
2. Pasukan Sentot Prawirodirjo tidak dibubarkan dan ia tetap sebagai komandannya,
3. Sentot Prawirodirjo dengan pasukannya
diizinkan untuk tetap memakai sorban,
4. Sebagai kelanjutan perjanjian itu, maka pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot
Prawirodirjo dengan pasukannya memasuki ibu kota negeri Yogyakarta untuk secara resmi menyerahkan diri.
Penyerahan diri
atau tertangkapnya para pemimpin pengikut Pangeran Diponegoro, merupakan
pukulan berat bagi perjuangan Pangeran Diponegoro. Namun pasukan di bawah komando
Diponegoro terus berjuang mempertahankan tanah tumpah
darahnya. Pasukan ini bergerak dari pos yang satu ke pos yang lain. Belum ada tanda-tanda perlawanan Diponegoro mau berakhir.
Belanda kemudian mengumumkan kepada khalayak pemberian hadiah sejumlah 20.000
ringgit bagi siapa saja yang dapat menyerahkan Pangeran Diponegoro baik dalam
keadaan hidup maupun mati. Tetapi nampaknya
tidak ada yang tertarik dengan pengumuman itu.
3.
Perlawanan di
Bali
Anda tentu sudah tahu tentang Bali.
Sekalipun ada di antara kamu yang belum
pernah ke Bali, tetapi tentu sudah begitu familier mendengar nama Bali.
Bahkan pada abad ke-20 pada
saat Indonesia sudah
merdeka ternyata masyarakat dunia
lebih mengenal nama Bali dari pada nama Indonesia. Bali adalah sebuah pulau kecil yang
sangat terkenal di Indonesia. Bali dikenal sebagai Pulau Dewata dan menjadi tujuan wisata nomor satu di Indonesia.
Tetapi kalau kita lihat
dalam perjalanan sejarah
nasional Indonesia sampai
abad ke-19 Bali belum banyak
menarik perhatian orang-orang Barat untuk menanamkan pengaruhnya. Kapal-kapal
orang-orang Barat mungkin hanya singgah dan sekedar berdagang. Baru pada
sekitar tahun 1830- an pemerintahan
Hindia Belanda aktif menanamkan pengaruhnya di Bali. Perkembangan dominasi Belanda inilah yang kemudian menyulut
api perlawanan rakyat Bali kepada
Belanda yang terkenal dengan sebutan “Perang
Puputan”
Mengapa
terjadi Perang Puputan di Bali?
Pada abad ke-19 di Bali sudah berkembang kerajaan-kerajaan yang berdaulat. Misalnya Kerajaan Buleleng,
Karangasem, Klungkung, Gianyar,
Badung, Jembrana, Tabanan, Menguri dan Bangli. Pada masa
pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels
mulai terjadi kontak
dengan kerajaan-kerajaan di
Bali, tidak sekedar urusan dagang tetapi menyangkut sewa menyewa orang-orang Bali untuk dijadikan tentara pemerintah Hindia
BeIanda. Tetapi dalam perkembangannya pemerintah
Hindia Belanda ingin menanamkan pengaruh dan berkuasa di Bali. Untuk itu,
Belanda mengirim dua utusan dengan misi masing-masing. Pertama, G.A. Granpre Moliere untuk misi ekonomi, kedua,
Huskus Koopman mengemban misi politik. Misi
ekonomi berjalan lancar. Tetapi misi politik menghadapi berbagai
kendala. Huskus Koopman terus
berusaha mendekati raja-raja di Bali agar
bersedia mengakui keberadaan dan kekuasaan Belanda. Akhirnya dicapai
perjanjian atau kontrak politik antara raja-raja di Bali dengan
Belanda. Misalnya, dengan
Raja Badung (28 November 1842),
dengan Raja Karangasem ( 1 Mei 1843), dengan
Raja
Buleleng ( 8 Mei 1843),
dengan Raja Klungkung (24 Mei 1843)
dan Tabanan (22 Juni 1843).
Perjanjian kontrak antara
raja-raja di Bali dengan Belanda
itu
terutama seputar Hukum Tawan
Karang agar dihapuskan.
Karena kelihaian atau bujukan Belanda,
raja-raja di Bali dapat menerima perjanjian
untuk meratifikasi penghapusan Hukum Tawan Karang.
Tetapi sampai tahun 1844 Raja
Buleleng dan Karangasem belum melaksanakan perjajian tersebut. Terbukti pada tahun 1844 itu penduduk
melakukan perampasan atas isi dua kapal Belanda yang terdampar di Pantai Sangsit (Buleleng) dan Jembrana
(waktu itu juga daerahnya Buleleng). Belanda protes keras terhadap
kejadian ini. Belanda
memaksa Raja Buleleng, Gusti Ngurah Made Karangasem agar melaksanakan isi perjanjian yang
telah disepakati. Belanda
juga menuntut agar Buleleng membayar ganti rugi atas kapal Belanda yang
dirampas penduduk. Raja Gusti Ngurah
Made Karangasem yang mendapat dukungan
patihnya, I Gusti Ktut Jelantik,
dengan tegas menolak tuntutan Belanda tersebut. Bahkan
I Gusti Ktut Jelantik sudah melakukan latihan
dan menghimpun kekuatan
untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda. Dengan
demikian perang tidak dapat dihindarkan.
Raja-raja di Bali tidak menghiraukan ultimatum Belanda itu.
Rakyat justru dipersiapkan untuk
melawan kekejaman Belanda. Raja Buleleng kemudian mengirim kurir untuk meminta
bantuan pasukan dari
kerajaan-kerajaan lain di Bali, sehingga datang
pasukan tambahan dari Klungkung, Karangasem, Mengwi. Belanda mengetahui
bahwa Raja Buleleng membangkang dan Patih
Ktut Jelantik terus memperkuat pasukannya.
Menghadapi hal tersebut
Belanda terus meningkatkan kekuatannya. Pada tanggal 7 dan 8 Juni 1848, telah mendarat
bala bantuan Belanda
di Pantai Sangsit. Tanggal 8 Juni serangan Belanda terhadap
benteng Jagaraga dimulai. Sebagai pemimpin tentara Belanda antara lain: J. van
Swieten, Letkol Sutherland Benteng
Jagaraga terus dihujani meriam. Namun pasukan
Buleleng di bawah pimpinan Ktut Jelantik yang dibantu isterinya, Jero
Jempiring mampu mengembangkan pertahanan dengan gelar-supit urang sehingga dapat menjebak pasukan
Belanda. Lima orang
opsir dan 74 orang serdadu dapat ditewaskan ditambah lagi tujuh opsir
dan 98 serdadu Belanda
luka-luka. Pasukan Belanda terpaksa ditarik
mundur.
Kekalahan Belanda itu cukup menyakitkan perasaan pimpinan Belanda di Batavia. Oleh karena itu,
dipersiapkan pasukan yang lebih kuat untuk melakukan pembalasan. Awal April 1849
telah datang kesatuan serdadu Belanda
dalam jumlah besar menuju ke Jagaraga. Pada tanggal 15 April 1849 semua
kekuatan Belanda dikerahkan untuk menyerang Jagaraga. Dalam tempo dua hari,
yakni tanggal 16 April sore hari semua kekuatan di Jagaraga dapat dilumpuhkan oleh Belanda. Runtuhlah Benteng Jagaraga sebagai pertanda lenyapnya kedaulatan rakyat Buleleng. Raja Buleleng diikuti I Gusti Ktut Jelantik
dan Jero Jempiring menyingkir ke Karangasem. Tetapi mereka tertangkap dan terbunuh dalam
upaya untuk mempertahankan diri.
»
Dengan terbunuhnya
Raja Buleleng dan Patih Ktut Jelantik maka
jatuhlah Kerajaan Buleleng ke tangan Belanda. Menyusul kemudian bulan
Mei 1849 Karangasem berhasil ditaklukkan, berikutnya Kusumba
(Klungkung) jatuh pula ke tangan
Belanda. Tetapi nampaknya tidak
mudah Belanda untuk menguasai Pulau Bali. Pertempuran demi pertempuran masih terus terjadi.
Tahun 1906 terjadi Perang
Puputan di Badung, pada tahun 1908 terjadi Perang Puputan di Klungkung
4.
Perang Banjar
Kamu tentu sudah mengenal Provinsi
Kalimantan Selatan. Ibukotanya ada di Banjarmasin. Berbicara soal Banjarmasin, apa yang kamu
ingat, apa yang kamu ketahui tentang Banjarmasin atau Provinsi Kalimantan Selatan pada umumnya. Kamu pernah mendengar tentang batu-batu mulia
dan intan dari Kalimantan
Selatan? Atau kamu tahu tentang kain sasirangan. Itu semua merupakan
produk-produk penting dari Kalimantan Selatan dewasa ini. Bagaimana dengan latar belakang sejarahnya?
Di Kalimantan Selatan pernah berkembang Kerajaan
Banjar atau Banjarmasin.
Wilayah Kesultanan Banjarmasin ini pada abad ke-19 meliputi
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
sekarang. Pusatnya ada di Martapura. Kesultanan ini memiliki posisi yang
strategis dalam kegiatan perdagangan dunia. Hal ini terutama
karena adanya hasil-hasil seperti emas dan intan, lada,
rotan dan damar. Hasil-hasil ini termasuk produk yang diminati
oleh orang- orang Barat,
sehingga orang-orang Barat juga berminat untuk menguasai Kesultanan Banjarmasin. Salah satu pihak
yang berambisi untuk
menguasai Banjarmasin adalah Belanda.
Setelah melalui bujuk
rayu disertai tekanan-tekanan, maka pada tahun
1817 terjadi perjanjian antara Sultan Banjar
(Sultan Sulaiman) dengan
pemerintah Hindia Belanda. Dalam perjanjian ini Sultan Sulaiman
harus menyerahkan sebagian
wilayah Banjar kepada Belanda, seperti daerah Dayak, Sintang, Bakumpai, Tanah Laut,
Mundawai, Kotawaringin, Lawai, Jalai, Pigatan, Pasir Kutai, dan Beran. Dengan
demikian wilayah kekuasaan Kesultanan Banjarmasin semakin
sempit, sementara daerah
kekuasaan Belanda semakin bertambah. Bahkan
menurut perjanjian yang diadakan tanggal
4 Mei 1826 antara Sultan
Adam Alwasikh dengan
Belanda, menetapkan bahwa
daerah Kesultanan Banjar tinggal daerah Hulu Sungai,
Martapura, dan Banjarmasin.
Wilayah yang semakin
sempit itu telah
membawa problem dalam
kehidupan sosial ekonomi. Penghasilan para penguasa kerajaan menjadi semakin kecil. Sementara dengan masuknya
pola hidup Barat, kebutuhan hidup para penguasa meningkat. Dengan demikian beban
hidup mereka semakin sulit. Untuk mengatasi kesulitan ini maka mereka
menaikkan pajak. Dengandemikian rakyat menjadi sasaran
eksploitasi baik dari pemerintah kolonial
maupun para pejabat kerajaan. Rakyat
juga diperintahkan untuk
melakukan kerja wajib.
Dalam suasana sosial
ekonomi yang memprihatinkan itu, di dalam kerajaan
sendiri terjadi konflik intern. Hal ini juga karena ulah intervensi Belanda.
Hal ini bermula saat putera mahkota Abdul Rakhman meninggal secara mendadak
pada tahun 1852. Sementara Sultan Adam memiliki tiga putra sebagai kandidat pengganti sultan, yakni : Pangeran Hidayatullah, Pangeran Tamjidillah, dan
Prabu Anom. Ketiga kandidat itu masing-masing memiliki pendukung. Pangeran
Hidayatullah didukung pihak istana dan kebetulan sudah mengantongi surat wasiat
dari Sultan Adam untuk menggantikan sebagai sultan, Pangeran Anom dijagokan
sebagai mangkubumi, sedang Tamjidillah didukung
Belanda.
Tahun 1857 Sultan Adam meninggal. Dengan sigap Residen
E.F. Graaf von Bentheim Teklenburg mewakili Belanda mengangkat Tamjidillah sebagai
sultan dan Pangeran
Hidayatullah diangkat sebagai mangkubumi. Pada hal menurut wasiat yang
sah yang diangkat menjadi sultan adalah
Pangeran Hidayatullah. Oleh karena itu, wajar kalau pengangkatan Tamjidillah sebagai Sultan Banjarmasin menimbulkan protes dan rasa kecewa dari berbagai pihak. Tamjidillah memiliki perangai yang kurang
baik, senang minum-minuman keras
seperti orang Belanda. Tamjidillah juga menghapus hak-hak istimewa pada
saudara- saudaranya termasuk menganggap tidak ada
surat wasiat dari Sultan Adam kepada Pangeran Hidayatullah. Kemudian, setelah hak- haknya dirampas, Pangeran Anom dibuang keandung. Tindakan Tamjidillah
yang sewenang- wenang itu semakin
menimbulkan rasa kecewa
dari berbagai pihak.
Salah satu gerakan
protes dan menolak
pengangkatan Tamjidillah sebagai sultan adalah yang dipelopori oleh Penghulu
Dalam suasana yang penuh ketegangan itu ditambah terjadi gerakan di pedalaman yang dipelopori oleh Aling. Aling
yang juga dikenal sebagai
Panembahan Muning mengatakan dalam semedinya ia mendapatkan firasat
agar Kesultanan Banjarmasin
dikembalikan kepada Pangeran Antasari, sepupu Pangeran Hidayatullah.
Pangeran Antasari adalah juga seorang pangeran
yang diperkirakan juga
keturunan raja di
Banjarmasin. Gerakan Aling ini
membuat suasana kerjaan
semakin kacau. Pusat
gerakan Aling dinamakan Tambai Mekah (Serambi Mekah) yang terletak
di tepian Sungai
Muning. Aling juga memanggil
Antasari agar datang
di Tambai Mekah. Pengaruh
Aling ini semakin besar dan banyak pengikutnya, karena Aling memang
dipandang orang yang sakti.
Pangeran Antasari yang memang sudah
kecewa dengan apa yang terjadi di lingkungan kerajaan,
datang
dan bergabung dengan Gerakan Aling.
Antasari berkeinginan untuk menurunkan Tamjidillah
dan
melawan kekuasaan Belanda.
Di samping kekuatan penuh dari pengikut
Aling, Pangeran Antasari juga mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Sultan
Pasir dan Tumenggung Surapati
pimpinan orang-orang Dayak.
Bagaimana
Perang Banjar berlangsung
?
Pada tanggal 28 April 1859
orang-orang Muning di bawah komando Panembahan Aling dan puteranya, Sultan Kuning menyerbu kawasan tambang
batu bara di Pengaron. Sekalipun gagal menduduki benteng di Pengaron tetapi
para pejuang Muning
berhasil membakar kawasan
tambang batu bara dan pemukiman orang-orang Belanda di sekitar
Pengaron. Banyak orang-orang Belanda yang terbunuh
oleh gerakan orang-orang Muning ini. Mereka juga melakukan penyerangan ke perkebunan milik gubernemen di Gunung Jabok, Kalangan, dan Bangkal Dengan
demikian berkobarlah Perang
Banjar.
Dengan peristiwa tersebut, keadaan
pemerintahan Kesultanan Banjar
semakin kacau. Sultan Tamjidillah yang memang tidak disenangi oleh rakyat itu juga tidak
banyak berbuat. Oleh karena itu, Tamjidillah dinilai oleh Belanda
tidak mampu memerintah maka diminta untuk
turun tahta. Akhirnya pada tanggal 25 Juni
1859 secara resmi
Tamjidillah mengundurkan diri dan mengembalikan
legalia Banjar kepada Belanda. Tamjidillah kemudian
diasingkan ke Bogor.
Mulai saat itu Kesultanan Banjar
berada di bawah
dominasi Belanda. Belanda sebenarnya berusaha membujuk
Pangeran Hidayatullah (Hidayat) untuk bergabung dengan Belanda dan akan dijadikan Sultan Banjar.
Tetapi kalau melihat kelicikan
Belanda, bagi Pangeran Hidayatullah itu semua merupakan tipu daya Belanda. Oleh
karena itu, Pangeran
Hidayatullah memilih bersama rakyat untuk melancarkan
perlawanan terhadap Belanda.
Sementara itu pasukan Antasari
sudah bergerak menyerbu pos-pos Belanda di Martapura. Perlawanan Antasari dengan
cepat mendapat dukungan
dari para ulama
dan punggawa kerajaan
yang sudah muak
dengan kelicikan dan kekejaman Belanda. Bulan Agustus
1859, Antasari bersama
pasukan Haji Buyasin, Kiai Langlang, Kiai
Demang Lehman berhasil
menyerang benteng Belanda di Tabanio.
Kemudian pasukan Surapati berhasil menenggelamkan
kapal Belanda, Onrust, dan merampas senjata yang ada di kapal tersebut di Lontotuor, Sungai
Barito Hulu. Dengan
demikian Perang Banjar
semakin meluas.
Pada waktu itu memasuki
bulan Agustus-September tahun 1859 pertempuran rakyat
Banjar terjadi di tiga lokasi, yakni di sekitar Banua Lima, sekitar Martapura dan Tanah Laut, serta sepanjang Sungai Barito.
Pertempuran di sekitar Banua Lima di bawah pimpinan Tumenggung Jalil, pertempuran di sekitar Martapura dan tanah
Laut dipimpin oleh Demang Lehman, dan sepanjang Sungai
Barito dikomandani oleh Pangeran Antasari. Kiai Demang Lehman yang berusaha mempertahankan benteng Tabanio
diserbu tentara Belanda. Pertempuran sengit
terjadi dan banyak
membawa korban. Sembilan
serdadu Belanda tewas. Belanda kemudian meningkatkan jumlah
pasukannya. Benteng Tabanio berhasil
dikepung oleh Belanda. Demang Lehman dan
pasukannya dapat meloloskan diri. Demang Lehman
kemudian memusatkan kekuatannya di benteng pertahanan di Gunung Lawak,
Tanah Laut. Benteng ini juga diserbu
tentara Belanda. Setelah
bertahan mati-matian, akhirnya Demang
Lehman meninggalkan benteng
itu karena sudah
banyak pengikutnya yang menjadi korban.
Kekalahan Demang Lehman
di benteng Gunung Lawak tidak memupuskan semangat juang melawan
Belanda, sebab mereka yakin perang ini merupakan perang sabil.
Pada bulan September Deman Lehman dan para pemimpin lain
seperti Tumenggung Jalil, dan
Pangeran Muhammad Aminullah meninggalkan medan pertempuran di Tanah
Laut menuju Kandangan untuk mengadakan
perundingan dengan tokoh-tokoh pejuang yang lain. Dalam pertemuan di Kandangan itu menghasilkan kesepakatan
yang intinya para pemimpin pejuang Perang Banjar menolak
tawaran berunding dengan
Belanda, dengan merumuskan
beberapa siasat perlawanan sebagai berikut.
1. Pemusatan kekuatan perlawanan di daerah Amuntai.
2. Membuat dan memperkuat pertahanan di Tanah
Laut, Martapura, Rantau dan Kandangan.
3. Pangeran Antasari memperkuat pertahanan di Dusun Atas.
4. Mengusahakan tambahan senjata.
5.
Aceh Berjihad
Kita sering mendengar tentang Aceh. Apa yang kamu ketahui tentang
Aceh? Ya, yang segar diingatan kita yakni peristiwa tsunami pada 26
Desember 2004. Tsunami itu terjadi
karena adanya gempa bumi yang begitu dahsyat dengan kekuatan 9,3 skala Richter
terletak di Samudra Indonesia, kurang lebih 160 km sebelah
barat Aceh pada kedalaman 10 km. Tsunami itu telah
meluluhlantakkan Aceh. Nah, peristiwa tsunami
ini bisa dikatakan
sebagai peringatan Tuhan Yang
Maha Kuasa agar kita lebih berhati-hati untuk menjaga lingkungan dan tidak sembarang melakukan reklamasi pantai.
Di samping tsunami
apa lagi yang
kamu tahu tentang
Aceh? Oh, ya mungkin kamu juga pernah mendengar Aceh
dikenal sebagai Serambi Mekah. Mengapa? Aceh merupakan daerah pertama masuknya
Islam di Nusantara. Aceh juga pernah menjadi
kerajaan Islam yang mendapat pengakuan
dari Syarif Mekah
atas nama Khalifah Turki. Aceh
juga pernah menjadi
pangkalan/ pelabuhan haji untuk seluruh Nusantara. Orang-orang Indonesia yang naik haji
ke Mekah dengan
kapal laut, sebelum
mengarungi Samudra Indonesia, tinggal beberapa bulan di
Banda Aceh. Itulah Aceh kemudian mendapat julukan “Serambi Mekah”
Sungguh Aceh ibarat
Serambi Mekah merupakan daerah dan kerajaan yang berdaulat. Rakyat
bebas beraktivitas, beribadah, dan berdagang dengan
siapa saja, di mana saja.
Tetapi kedaulatan mulai terganggu karena keserakahan
dan dominasi Belanda. Dominasi, dan kekejaman penjajahan Belanda ini telah berimbas ke Aceh sehingga
melahirkan “Perang Aceh”, perangnya para pejuang untuk
berjihad melawan kezaliman kaum penjajah pada tahun
1873 - 1912
a. Mengapa dan apa latar belakang terjadi
perang di Aceh itu?
Aceh memiliki kedudukan yang strategis. Aceh menjadi pusat perdagangan. Daerahnya luas
dan memiliki hasil
penting seperti lada,
hasil tambang, serta
hasil hutan. Karena
itu dalam rangka
mewujudkan Pax Neerlandica, Belanda sangat berambisi untuk
menguasai Aceh. Kita
tahu sejak masa
VOC, orang- orang Belanda
itu ingin menguasai perdagangan di Aceh,
begitu juga zaman
pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi di sisi lain
orang-orang Aceh dan para
sultan yang pernah berkuasa tetap
ingin mempertahankan kedaulatan Aceh. Semangat dan
tindakan sultan beserta
rakyatnya yang demikian
itu memang secara resmi
didukung dan dibenarkan oleh adanya Traktat London
tanggal 17 Maret 1824.
Traktat London
itu adalah hasil
kesepakatan antara Inggris
dan Belanda yang isinya antara
lain bahwa Belanda
setelah mendapatkan kembali
tanah jajahannya di Kepulauan Nusantara, tidak dibenarkan mengganggu kedaulatan Aceh.
Dengan isi Traktat
London itu secara
resmi menjadi kendala
bagi Belanda untuk menguasai Aceh. Tetapi
secara geografis-politis Belanda
merasa diuntungkan karena kekuatan Inggris
tidak lagi sebagai
penghalang dan Belanda
mulai dapat mendekati wilayah Aceh. Apalagi pada tahun 1825 Inggris sudah menyerahkan
Sibolga dan Natal kepada Belanda. Dengan demikian Belanda sudah
berhadapan langsung wilayah Kesultanan Aceh. Belanda tinggal menunggu momen yang tepat untuk dapat melakukan
intervensi di Aceh. Belanda mulai kusak-
kusuk untuk menimbulkan kekacauan di Aceh.
Politik adu domba juga mulai diterapkan. Belanda juga bergerak
di wilayah perairan Aceh dan Selat Malaka. Belanda
sering menemukan para bajak laut yang
mengganggu kapal-kapal asing yang sedang berlayar dan berdagang di perairan Aceh
dan Selat Malaka.
Dengan alasan menjaga
keamanan kapal- kapal yang sering diganggu
oleh para pembajak
maka Belanda menduduki beberapa daerah seperti Baros
dan Singkel.
Gerakan menuju aneksasi terus diintensifkan. Pada tanggal 1
Februari 1858, Belanda menyodorkan perjanjian dengan Sultan Siak, Sultan
Ismail. Perjanjian inilah yang dikenal dengan Traktat Siak. Isinya antara lain Siak mengakui kedaulatan Hindia
Belanda di Sumatra
Timur. Ini artinya daerah- daerah yang berada di bawah pengaruh
Siak seperti: Deli,
Asahan, Kampar, dan Indragiri berada di bawah
dominasi Hindia Belanda. Padahal daerah-
daerah itu sebenarnya berada di bawah lindungan Kesultanan Aceh. Tindakan Belanda dan Siak ini tidak diprotes keras oleh Kesultanan Aceh.
b. Syahid
atau menang
Agresi tentara Belanda
terjadi pada tanggal
5 April 1873.
Tentara Belanda di bawah
pimpinan Jenderal Mayor
J.H.R. Kohler terus
melakukan serangan terhadap
pasukan Aceh. Pasukan Aceh yang terdiri atas para ulebalang, ulama, dan rakyat terus
mendapat gempuran dari
pasukan Belanda. Dengan
memperhatian hasil laporan spionase
Belanda yang mengatakan bahwa Aceh dalam keadaan lemah secara
politik dan ekonomi,
membuat para pemimpin Belanda termasuk Kohler optimis
bahwa Aceh segera dapat ditundukkan.
Oleh karena itu, serangan-serangan tentara Belanda terus diintensifkan. Tetapi
kenyataannya tidak mudah
menundukkan para pejuang
Aceh. Dengan kekuatan yang ada para pejuang Aceh
mampu memberikan perlawanan sengit. Pertempuran terjadi
kawasan pantai, kemudian
juga di kota,
bahkan pada tanggal
14 April 1873 terjadi pertempuran sengit antara pasukan
Aceh dibawah pimpinan Teuku Imeum Lueng Bata melawan tentara
Belanda di bawah pimpinan
Kohler untuk memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman.
Dalam pertempuran memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman ini pasukan Aceh berhasil membunuh Kohler di
bawah pohon dekat masjid tersebut. Pohon ini kemudian dinamakan Kohler Boom.
Banyak jatuh korban dari pihak Belanda.
Begitu juga tidak
sedikit korban dari
pihak pejuang Aceh
yang mati syahid.
Terbunuhnya Kohler ini maka pasukan Belanda ditarik mundur ke pantai. Dengan
demikian gagallah serangan tentara Belanda yang pertama. Ini membuktikan bahwa
tidak mudah untuk
segera menundukkan Aceh.
Karena kekuatan para pejuang
Aceh tidak semata-mata terletak pada kekuatan pasukannya, tetapi juga terkait
hakikat kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai
agama dan sosial budaya yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Doktrin para pejuang
Aceh dalam melawan
Belanda hanya ada dua pilihan “syahid atau menang”. Dalam hal
ini nilai-nilai agama senantiasa menjadi potensi yang sangat menentukan dalam menggerakkan perlawanan terhadap penjajahan asing. Oleh
karena itu, Perang
Aceh berlangsung begitu
lama.
Setelah melipatgandakan kekuatannya, pada tanggal 9
Desember 1873 Belanda melakukan agresi atau serangan
yang kedua. Serangan
ini dipimpin oleh J. van
Swieten. Pertempuran sengit terjadi istana dan juga terjadi di Masjid Raya
Baiturrahman. Para pejuang Aceh harus mempertahankan masjid dari
serangan Belanda yang
bertubi-tubi. Masjid terus
dihujani peluru dan kemudian pada tanggal
6 Januari 1874
masjid itu dibakar. Para
pejuang dan ulama kemudian
meninggalkan masjid. Tentara Belanda
kemudian menuju istana. Pada tanggal 15 Januari 1874 Belanda dapat menduduki
istana setelah istana
dikosongkan, karena Sultan
Mahmud Syah II bersama
para pejuang yang lain meninggalkan istana menuju ke Leueung Bata dan
diteruskan ke Pagar Aye (sekitar
7 km dari pusat kota Banda Aceh).
Tetapi pada tanggal
28 Januari 1874 sultan meninggal karena wabah kolera.
Jatuhnya Masjid Raya
Baiturrahman dan istana sultan, Belanda menyatakan bahwa Aceh Besar telah menjadi daerah kekuasaan Belanda.
Para ulebalang, ulama dan rakyat tidak ambil pusing dengan pernyataan Belanda. Mereka
kemudian mengangkat putra mahkota
Muhammad Daud Syah sebagai sultan Aceh. Tetapi karena
masih di bawah
umur maka diangkatlah Tuanku Hasyim
Banta Muda sebagai
wali atau pemangku
sultan sampai tahun
1884. Pusat pemerintahan di Indrapuri (sekitar 25 km arah tenggara
dari pusat kota). Semangat untuk
melanjutkan perang terus menggelora di berbagai tempat. Pertempuran dengan
Belanda semakin meluas
ke daerah hulu. Sementara itu tugas van
Swieten di Aceh
dipandang cukup. Ia digantikan oleh
Jenderal Pel. Sebelum Swieten
meninggalkan Aceh, ia mengatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda akan segera
membangun kembali masjid raya yang telah dibakarnya. Tentu hal ini dalam
rangka menarik simpati
rakyat Aceh.
c. Perang Sabil
Tahun 1884
merupakan tahun yang sangat penting, karena Muhammad Daud Syah telah dewasa
maka secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Ala’uddin Muhammad Daud Syah bertempat di Masjid
Indrapuri. Pada waktu upacara penobatan ini para pemimpin
Perang Aceh seperti Tuanku Hasyim, Panglima
Polim, Tengku Cik Di Tiro memproklamirkan “Ikrar Prang
Sabi” (Perang Sabil).
Perang Sabil merupakan perang melawan kaphee Beulanda
(kafir Belanda), perang suci untuk
membela agama, perang untuk mempertahankan tanah air, perang
jihad untuk melawan
kezaliman di muka
bumi. Setelah penobatan itu, mengingat keamanan
istana di Indrapuri dipindahkan ke Keumala di daerah Pidie
(sekitar 25 km sebelah selatan
kota Pidie). Dari
Istana Keumala inilah
semangat Perang Sabil
digelorakan.
Dengan digelorakan Perang Sabil,
perlawanan rakyat Aceh semakin meluas. Apalagi dengan
seruan Sultan Muhammad Daud Syah yang menyerukan gerakan amal untuk membiayai
perang, telah menambah semangat para pejuang Aceh. Cik Di Tiro mengobarkan
perlawanan di Sigli dan Pidie. Di Aceh bagian barat tampil Teuku Umar beserta
isterinya Cut Nyak Dien. Pertempuran sengit terjadi di Meulaboh. Beberapa
pos pertahanan Belanda
berhasil direbut oleh pasukan Teuku Umar. Pasukan Aceh dengan semangat
jihadnya telah menambah kekuatan untuk melawan
Belanda. Belanda mulai
kewalahan di berbagai medan pertempuran. Belanda mulai menerapkan strategi baru yang
dikenal dengan “Konsentrasi Stelsel atau Stelsel
Konsentrasi”.
Ditengah-tengah perjuangan itu pada tahun 1891 Tengku Cik Di Tiro meninggal.
Perjuangannya melawan Belanda dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Tengku Ma Amin Di Tiro. Kemudian terpetik berita bahwa pada
tahun 1893 Teuku Umar menyerah
kepada Belanda. Teuku Umar
kemudian dijadikan panglima
tentara Belanda dan diberi gelar Teuku Johan Pahlawan. Ia diizinkan untuk
membentuk kesatuan tentara beranggotakan 250 orang. Peristiwa ini tentu sangat
berpengaruh pada semangat
juang rakyat Aceh. Nampaknya Teuku Umar juga tidak serius untuk melawan
bangsanya sendiri. Setelah pasukannya sudah
mendapatkan banyak senjata
dan dipercaya membawa
dana 800.000 gulden, pada 29 Maret
1896 Teuku Umar dengan
pasukannya berbalik dan kembali melawan
Belanda. Peristiwa inilah
yang dikenal dengan
Het verraad van Teukoe Oemar (Pengkhianatan Teuku Umar). Teuku Umar berhasil menyerang pos-pos Belanda yang ditemui.
Peristiwa itu membuat Belanda semakin marah dan geram.
Sementara untuk menghadapi semangat Perang Sabil Belanda
juga semakin kesulitan. Oleh karena itu tidak ada
pilihan lain untuk melaksanakan usulan Snouck Horgronye untuk melawan Aceh dengan kekerasan. Perlu diketahui bahwa sebelum itu Belanda
telah meminta Snouck
Horgronye agar melakukan kajian tentang seluk beluk kehidupan dan semangat juang
orang-orang Aceh, sehingga dapat ditemukan strategi untuk segera
mengalahkan para pejuang Aceh. Snouck Horgronye mulai
menyamar memasuki kehidupan di tengah- tengah kehidupan masyarakat Aceh. Ia memakai
nama samaran Abdul
Gafar. Ia telah mempelajari agama Islam dan adat budaya
Aceh. Snouck Horgronye
menyimpulkan bahwa para pejuang Aceh itu sulit dikalahkan karena disemangati oleh semangat jihad dengan tali ukhuwah Islamiyahnya. Oleh karena itu
Snoukck Horgronye mengusulkan beberapa cara
untuk melawan perjuangan rakyat Aceh.
Beberapa usulan itu adalah sebagai berikut.
1. Perlu memecah belah persatuan dan kekuatan
masyarakat Aceh, sebab di lingkungan
masyarakat Aceh terdapat rasa persatuan antara kaum bangsawan, ulama, dan rakyat.
2. Menghadapi kaum ulama yang fanatik dalam memimpin
perlawanan harus dengan kekerasan, yaitu dengan kekuatan
senjata
3. Bersikap lunak terhadap kaum bangsawan dan keluarganya dan diberi kesempatan untuk masuk ke dalam korps
pamong praja dalam
pemerintahan kolonial Belanda.
Belanda segera melaksanakan usulan-usulan Snouck Horgronye tersebut. Belanda harus menggempur Aceh dengan kekerasan dan
senjata. Untuk memasuki fase ini dan memimpin perang
melawan rakyat Aceh,
diangkatlah gubernur militer yang baru yakni van Heutsz (1898-1904)
menggantikan van Vliet. Genderang perang dengan kekerasan di mulai tahun
1899. Perang ini berlangsung 10 tahun. Oleh karena itu, pada periode
tahun 1899 – 1909
di Aceh disebut dengan masa
sepuluh tahun berdarah (tien bloedige jaren) .
Semua pasukan disiagakan dengan dibekali seluruh
persenjataan. Van Heutsz segera melakukan
serangan terhadap pos pertahanan para pemimpin
perlawanan di berbagai daerah. Dalam hal ini Belanda juga mengerahkan pasukan anti gerilya
yang disebut Korps
Marchausse (Marsose) yakni
pasukan yang terdiri
dari orang-orang Indonesia yang berada di bawah pimpinan opsir- opsir Belanda.
Mereka pandai berbahasa
Aceh. Dengan demikian
mereka dapat bergerak sebagai informan. Dengan
kekuatan penuh dan sasaran yang tepat karena adanya informan-informan bayaran,
serangan Belanda berhasil mencerai-beraikan para pemimpin perlawanan. Teuku Umar bergerak menyingkir ke Aceh
bagian barat dan Panglima Polem dapat digiring dan bergerak di Aceh bagian timur.
Di Aceh bagian barat Teuku
Umar mempersiapkan pasukannya untuk melakukan penyerangan secara
besar-besaran ke arah Meulaboh. Tetap tampaknya persiapan Teuku Umar ini tercium
oleh Belanda. Maka Belanda segera
menyerang benteng pertahanan Teuku Umar. Terjadilah pertempuran sengit pada Februari 1899.
Dalam pertempuran ini Teuku
Umar gugur sebagai
suhada. Perlawanan dilanjutkan oleh Cut Nyak
Dien. Cut Nyak
Dien dengan pasukannya memasuki
hutan dan mengembangkan perang gerilya.
Perlawanan
rakyat Aceh belum berakhir. Para
pejuang Aceh di bawah komando sultan dan
Panglima Polem terus berkobar. Setelah
istana kerajaan di Keumala diduduki Belanda, sultan melakukan perlawanan
dengan berpindah-pindah bahkan juga melakukan perang gerilya. Sultan menuju Kuta
Sawang kemudian pindah ke Kuta Batee
Iliek. Tetapi kuta-kuta ini berhasil diserbu
Belanda. Sultan kemudian
menyingkir ke Tanah Gayo.
Pada tahun berikutnya Belanda menangkap istri sultan, Pocut Murong. Karena tekanan Belanda yang terus
menerus, pada Januari
1903 Sultan Muhammad Daud Syah terpaksa
menyerah. Demikian siasat
licik dari Belanda.
Cara licik inikemudian juga digunakan untuk
mematahkan perlawanan Panglima Polem
dan Tuanku Raha Keumala. Istri, ibu dan anak-anak Panglima Polem
ditangkap oleh Belanda. Dengan tekanan yang bertubi-tubi akhirnya Panglima
Polem juga menyerah pada 6 Serptember 1903. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa Kerajaan Aceh yang sudah berdiri sejak
1514 harus berakhir
Kerajaan boleh berakhir, tetapi
semangat juang rakyat
Aceh untuk melawan
dominasi asing sulit untuk dipadamkan. Sementara Cut Nyak Dien terus mengobarkan perang jihad dengan
bergerilya. Tetapi setelah pos pertahan
pasukannya dikepung tentara Belanda pada tahun 1906 Cut Nyak Dien berhasil ditangkap. Ia dibuang
ke Sumedang, Jawa
Barat sampai meninggal pada tanggal 8 November
1908. Namun perjuangan rakyat Aceh juga belum berakhir. Di daerah Pidie
sejumlah ulama masih
terus melancarkan serangan ke pos-pos Belanda. Tokoh-tokoh ulama itu misalnya Teungku Mahyidin Tiro bersama
istrinya Teungku Di Bukiet
Tiro, Teungku Ma’at Tiro, Teungku Cot Plieng. Semua ulama
ini gugur dalam
Perang Sabil melawan
kezaliman Belanda. Ulama yang terakhir mengadakan perlawaan di Pidie ini
adalah Teungku Ma’at Tiro yang waktu
itu baru berusia 16 tahun. Tetapi setelah
dikepung di Pegunungan Tangse
Teungku Ma’at Tiro berhasil
ditembak mati oleh
Belanda pada tahun
1911. Ia mati syahid gugur
sebagai kusuma bangsa.
Sementara itu di pesisir utara
dan timur Aceh
juga masih banyak
para ulama dan pemimpin adat yang terus
melakukan perlawanan. Misalnya
Teuku Ben Pirak (ayah Cut Nyak Mutia), Teuku Cik Tinong (suami Cut Nyak Mutia). Setelah ayah dan
suaminya gugur, Cut Nyak Mutia
melanjutkan perang melawan kekejaman Belanda.
Cut Nyak Mutia sesuai dengan pesan suaminya Teuku Cik Tunong sebelum
ditembak mati oleh Belanda disarankan untuk
menikah dengan Pang Nanggru. Oleh karena itu, Cut Nyak Mutia dapat
bersama-sama melawan Belanda
dengan Pang Nanggru. Pada tanggal 26 September 1910 terjadi pertempuran sengit di Paya Cicem. Pang Nanggru
tewas dan Cut
Nyak Mutia berhasil meloloskan diri. Bersama
puteranya Raja Sabil (baru usia 11 tahun), Cut Nyak
Mutia terus memimpin perlawanan. Tetapi Cut Nyak Mutia
akhirnya dapat didesak
dan gugur setelah
beberapa peluru menembus kaki dan tubuhnya. Ulama yang lain seperti Teungku
Di Barat bersama istrinya Cut Po Fatimah masih melanjutkan perlawanan, tetapi suami-istri itu akhirnya juga
gugur tertembak oleh
keganasan peluru Belanda pada tahun 1912. Demikian Perang
Sabil yang digelorakan rakyat Aceh secara massal
baru berakhir pada
tahun 1912. Tetapi sebenarnya masih ada
gerakan-gerakan perlawanan lokal yang berskala
kecil yang sering
terjadi. Bahkan dikatakan perang-perang kecil itu berlangsung sampai tahun 1942.
6. Perlawanan Rakyat Batak
Sisingamangaraja
XII
Perlawanan rakyat Batak dipimpin
Sisingamangaraja XII. Latar belakang perlawanan ini adalah bangsa Belanda
berusaha menguasai seluruh tanah Batak dan disertai dengan penyebaran agama
Kristen. Sisingamangaraja XII masih melawan Belanda sampai akhir abad ke-19.
Namun, gerak pasukan Sisingamangaraja XII semakin menyempit. Pada akhirnya,
Sisingamangaraja XII wafat ditembak serdadu Marsose, dan Belanda menguasai
tanah Batak
Sumber buku Paket Sejarah Indonesia
XI hal 96-133
Comments
Post a Comment