Reformasi Gereja
REFORMASI GEREJA
(Sumber : www.wikipedia.com)
Reformasi gereja adalah sebuah upaya perbaikan dan kembali pada ajaran gereja yang lurus, gerakan reformasi berupa sikap kritis terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pihak Gereja Katolik pada waktu itu.
A. Latar belakang
1.
Banyaknya penyimpangan, antaranya
sebagai berikut :
·
Dilakukannya penyogokan oleh pemuka
agama kepada petinggi gereja agar mereka memperoleh kedudukan sosial
keagamaaan.
·
Paus sebagai bapak suci berperilaku
amoral yang menyangkut hubungannya dengan wanita
·
Penjualan surat-surat pengampunan dosa
(indulgencies).
·
Adanya penyimpangan terhadap acara
sakramen suci atau ritus pemujaaan terhadap benda-benda keramat atau
tokoh-tokoh suci yang nantinya akan menimbulkan yang tidak masuk akal.
2.
Korupsi atas nama negara
3.
Pajak-pajak yang memberatkan karena
ambisi kekuasaan kaum bangsawan lokal
4.
Kebangkitan nasionalisme di Eropa
5.
Perkembangan kapitalisme dan
krisis-krisis ekonomi dikawasan imperium roma
B.
Tokoh Reformasi Gereja
1.
Martin Luther (1483-1546)
Marthin Luther lahir pada tanggal 10 Nopember 1483,di kota Eisleben, propinsi Saxony (sekarang wilayah Jerman). Martin adalah nama baptisan yang diperolehnya karena hari pembabtisannya bertepatan dengan Hari Santo Martin, pelindung kaum pengemis.
Awal gerakan reformasi gereja Protestan
terjadi di jerman dengan tokoh utamanya Martin Luther. Terjadi di jerman karena
ada beberapa faktor yakni:
a.
jerman yang sekitar abad XV-XVI masih
merupakan negara agraris atau negara yang masih terbelakang jika dibandingkan
dengan negara-negara Eropa.
b. rakyat Jerman pada saat itu sebagian besar adalah masyarakat petani yang merupakan kelompok sosial yang paling menderita akibat adanya katolisisme
Gerakan Reformasi Luther dimulai ketika ai membacakan 99 pernyataan protes terhadap gereja dan lembaga kepeusan yang menjual surat-surat pengampunan dosa itu. Martin Luther menilai penjualan surat-surat itu bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus. Pembelia surat-surat itu tidak boleh dipaksakan, harus didasarkan atas kesukarelaan. Berbuat kebajikan seperti memberi makan fakir miskin dan meminjamkan uang kepada yang membutuhkan jauh lebih utama dari membeli surat-surat pengampunan dosa. Gereja atau pemuka agama tidak memiliki hak memberikan pengampunan dosa. Hanya Tuhan, atas dasar kepercayaan dan amal soleh individu, yang berhak memberikan pengampunan dosa. Inilah yang dinamakan doktrin Justification by Faith.
Selain itu, Luther juga menolak tradisi keagamaan yang sudah berlangsung ratusan tahun lamanya, yakni hak istimewa pastor dalam membacakan dan menafsirkan kitab suci. Menurutnya siapa pun pengikut Kristus, bukan hanya kaum pendeta saja, berhak membaca dan menafsirkan Alkitab. Alkitab harus terbuka bagi semua orang agar isi kebenarannya diketahui semua orang, tidak terbatas kaum pendeta saja. Sehingga tidak terjadi monopoli kebenaran oleh segelintir pemuk agama. Dan protes ini berdampak luas, kebenaran agama kemudian menjadi bersifat interpretable dan multi-interpretasi. Pastor dan pemuka agama bukan satu-satunya penafsir kebenaran.
2.
Johannes Calvin (1509-1564)
Calvin lahir di Noyon, Picardy, Prancis,
1509. Calvin belajar di Universitas Paris dan mendalami kajian hukum di Orlens.
Kemudian pada tahun 1541 ia mulai aktif sebagai penginjil John Calvin merupakan
tokoh penting dalam gerakan reformasi gereja Protestan. Calvin telah meletakan
dasar-dasar teologis, filosofis dan intelektual yang kokoh bagi keberhasilan
gerakan reformasi Protestan di Eropa. Calvinisme sangat berpengaruh terhadap
perjalanan sejarah Eropa modern. Ia merupakan salah satu fondasi doktrinal
terpenting kemajuan peradaban kapitalis Eropa di Abad modern.
Pemikiran Calvin yang kemudian menjadi basis teologis terpenting Protestantisme adalah adanya gagasan tentang takdir (predestination). Takdir manusia menurut Calvin telah ditentukan oleh Tuhan. Manusia yang selamat atau celaka di dunia mana pun di akhirat kelak memang telah ditulis nasibnya demikian. Nasib manusia sepenuhnya ditentukan oleh ibadah dan Tuhan.
C.
Proses Terjadinya Reformasi Gereja
Awal terjadinya reformasi gereja ini muncul atau
terjadi di Jerman. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya reformasi gereja
di Jerman yaitu, sekitar abad 15-16 Jerman masih merupakan negara agraris yang
terbelakang dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, kuatnya pengaruh
katolisme yang bersifat konservatif di Jerman, banyaknya penjualan surat-surat
pengampunan dosa di Jerman melebihi negara-negara Eropa lainnya, sebagian besar
rakyat Jerman yang berprofersi sebagai petani yang merupakan kelompok sosial
yang paling menderita akibat kekuasaan katolisme salh satunya dengan adanya
pajak-pajak yang sangat memberatkan rakyat.
Selain itu juga faktor yang paling mendasari
terjadinya reformasi di Jerman adanya fase transisi ekonomi di Jerman dimana
pada waktu itu terjadi proses perubahan dari masyarakat feodal menuju
masyarakat ekonomi profit atau menuju masyarakat kapitalis. Dari sinilah muncul
satu tokoh yaitu Marthin Luther. Adapun pemikiran-pemikiran dari Marthin Luther
dalam melakukan protes terhadap kekuasaan Gereja Khatolik Roma yaitu: ·
Penolakan Luther terhadap surat-surat pengampunan doa yang dikeluarkan oleh
Paus karena menurutnya gereja atau pemuka agama tidak memiliki hak untuk
memberikan pengampunan dosa. Tuhan-lah yang memberikan pengampunan itu
didasarkan kepada kepercayaan dan amal sholeh individu selama hidup.
D.
Dampak dari adanya Gerakan Reformasi
Protestan dibawah Luther dan Calvin :
1. Dampak sosial dan politik terhadap Eropa dan
negara-negara Barat pada umumnya.
Reformasi ini menimbulkan Western Christendom sehingga
munculnya negara-negara nasional kecil tanpa memiliki pusat kekuasaan atau
gembala politik seperti lembaga Kepausan Roma. Menumbuhkan benih-benih
demokratisasi politik, kesadaran individual akan pentingnya hak-hak politik,
kebebasan individu. Tetapi dengan adanya gerakan reformasi Protestan ini juga
lahirnya kekuasaan absolut di Eropa.
2. Reformasi juga mengakibatkan terbelahnya agama Kristen menjadi sekte-sekte
kecil; Lutherisme, Calvinisme, Anglicanisme, Quakerisme, Katholikisme.
Akibat adanya sekte-sekte ini, Eropa terbelah secara keagamaan; Jerman Utara
dan negara-negara Skandinavia ( dan Norwegia), menganut Lutheranisme;
Skotlandia, Belanda, Switzerland dan Prancis menganut Calvinisme dan
negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol dan Italia menganut katolisisme
(Ortodoks).

Comments
Post a Comment