Dampak Perang Dingin terhadap Politik dan Ekonomi Global, Serta Peran Aktif Indonesia Dalam Perang Dingin
B. Dampak Perang Dingin terhadap Politik dan Ekonomi Global, Serta Peran Aktif Indonesia Dalam Perang Dingin
Peran Indonesia
Dalam Perang Dingin:
Perang dingin
terjadi pasca perang dunia kedua, dimana dua negara besar, yaitu Amerika
Serikat dan Uni Soviet memiliki perbedaan paham atau ideologi dan adanya
keinginan untuk berkuasa. Banyak dari negara-negara berkembang di Afrika, Asia,
bahkan Amerika Latin yang menolak dorongan untuk memihak pada salah satu blok
yang berseteru tersebut, begitupun Indonesia. Adapun keterlibatan Indonesia
dalam perang dingin tersebut bisa dilihat dari 4 peran penting diantaranya;
Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, Pengiriman Pasukan Garuda, dan
Deklarasi Juanda.
1.
Konferensi Asia-Afrika (KAA)
Konferensi ini
diawali dengan dilaksanakannya konferensi Colombo dan bertujuan untuk meredakan
ketegangan dan perdamaian dunia pasca perang dingin. Indonesia mengupayakan
adanya Konferensi seluruh Asia-Afrika di New Delhi yang persiapannya diadakan
di Bogor pada 28-31 Desember. Konferensi ini diadakan pada 18 -24 April 1995 di
gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dan dihadiri oleh 29 Kepala Negara dan
Kepala Pemerintahan dari benua Asia dan Afrika yang baru saja merdeka.
Konferensi tersebut kemudian menyepakati Dasasila Bandung yang menjadi dasar
pembentukan gerakan Non-Blok.
2.
Gerakan Non-Blok (GNB)
Gerakan Non-Blok
adalah salah satu tindakan yang tidak memihak antara salah satu blok yang ada
di dunia. Sebenarnya gerakan ini bertujuan untuk mengatasi ketegangan dunia
dari peperangan dan Indonesia sebagai negara kesatuan mempunyai peran yang
sangat penting dalam gerakan Non-Blok. Adapun peran Indonesia dalam Gerakan
Non-Blok antara lain; Presiden Soekarno berperan dalam pembentukan Gerakan
Non-Blok, Indonesia diberikan wewenang dalam memimpin Gerakan Non-Blok dan
berhasil menggelar KTT X-GNB yang diselenggarakan di Bandung, Indonesia juga
berhasil meredam aksi ketegangan daerah bekas pecahnya negara Yugoslavia pada
tahun 1991.
3.
Pengiriman Pasukan Garuda
Misi Garuda tidak
terlepas dari terbentuknya United Nations Peacekeeping Operations (Misi
Pemeliharaan perdamaian PBB). Hal tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen
Indonesia dalam melaksanakan Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB. Pasukan ini
terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ditugaskan sebagai pasukan
perdamaian di Negara lain. Terbentuknya pasukan ini karena munculnya konflik di
Timur Tengah pada 16 Juli 1959. Dimana, Inggris, Prancis, dan Israel
melancarkan serangan gabungan terhadap Mesir dan menimbulkan perdebatan
diantara negara-negara lainnya.
4.
Deklarasi Juanda
Deklarasi Juanda
menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di
antara, dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.
Sebelum deklarasi Juanda wilayah Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia
Belanda yaitu pulau-pulau di Nusantara dipisahkan oleh laut sekelilingnya dan
setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai
yang mengindikasikan bahwa kapal asing boleh dengan bebas berlayar di laut yang
memisahkan pulau-pulau tersebut. Akhirnya, melalui Deklarasi ini dinyatakan
bahwa laut teritorial Indonesia berjarak 12 mil laut diukur dari garis-garis
dasar yang menghubungkan titik terluar dari pulau terluar. Deklarasi Djuanda
kemudian dikukuhkan melalui Perpu No.4 tahun 1960 dan melahirkan konsep
“Wawasan Nusantara” agar diakui oleh negara lain.
Dampak Perang Dingin Bagi Indonesia:
Meluasnya
peperangan yang melibatkan blok Barat dan Blok Timur dan sekutu-sekutunya tentu
memiliki dampak bagi dunia, termasuk Indonesia. Lalu, dampak apa saja yang
dirasakan Indonesia atas terjadinya perang dingin?
1.
Penerapan Demokrasi Terpimpin pada tahun 1960, pada
saat itu pemerintah mengarahkan pandangan politiknya ke negara yang berhaluan
komunis.
2. Pendirian Poros
Jakarta Hanoi Pyongyang Phnom Penh, yang terbentuk akibat kedekatan Indonesia
dengan negara Blok Timur.
3. Kebijakan Ekonomi
Indonesia cenderung terlihat mengarah pada kolonialisme dan imperialisme.
4. Munculnya
Reformasi, karena berakhirnya pemerintahan Orde Baru
5. Terjadinya krisis
moneter karena ketergantungan Indonesia terhadap modal asing sangat tinggi dan
terlalu berganting kepada barang impor.
Comments
Post a Comment